Image Slider

Designing Your Life: Build a Life that Works for You (pt. 1)

 *Judul postingan mengutip bukunya 


"Because a well-designed life means a life well-lived"


Setuju gak bahwa hidup yang dijalani dengan baik itu karena sudah dirancang dengan baik pula?


Terlepas dengan yang namanya takdir ya, karena tugas kita adalah berikhtiar. Artinya rancangan itu adalah bagian dari ikhtiar kita sendiri.


Banyak teman-teman yang suka nanya, gimana caranya bisa membagi waktu sih vi? Saya? Ooh tentu saya gak bisa menjawabnya, haha... Karena saya pun terkadang masih suka karep-karepe dewe' (semaunya sendiri)


Tapi saya mau membagi sedikit pengalaman pribadi, murni pengalaman pribadi, jadi jangan diterima mentah-mentah bahwa ini yang harus teman-teman lakukan juga yaa.. semoga bisa jadi bahan bacaan ringan dan kembali lagi kepada kebutuhan, keinginan, kemampuan, dan daya upaya masing-masing. Because people's needs are different 👌.


Oya, kenapa soal membagi waktu saya masukkan dalam designing my life? Oh sudah tentu, tanpa pembagian waktu yang tepat, maka rencana sebaik apapun tidak akan bisa terlaksana dengan baik.

  • Pertama, saya harus tau dulu kebutuhan saya seperti apa. Saya butuh bekerja dengan cepat, karena pekerjaan yang saya lakukan tidak hanya satu jenis. Breakdown yuk, bikin target mau diselesaikan kapan dan berapa lama. Kalau susah ngingetinnya, boleh dibikin list di kertas atau notes di smartphone. Selama ini saya jarang banget bikin notes, catetan, tulisan atau apapun buat ngingetin apa saja yang harus saya lakukan saat itu. Kayaknya, otak ini masih mau-mau aja menelan segala rencana dalam hari itu bahkan rencana beberapa hari kedepan, haha.
  • Kedua, saya harus bisa ngukur kemampuan saya sendiri. Fisik sehat kah? Mental sehat kah? Mood bagus kah? Jadi kegiatan apapun, saya gak mau maksain banget. Kalau fisik sudah merasa sangat lelah, biasanya gak saya lakuin saat itu juga, istirahat dulu, kalau mood sudah baikan, fisik sudah fit lagi, mental sudah siap menjalankan perintah, yuuk kita mulai. Jadi pointnya, gak maksain dan gak ngoyo ngono lo... Karena kesehatan fisik dan mental menurut saya jauh lebih penting dari sekian banyak kegiatan itu. Ya contoh aja, nonton K-Drama. Penasaran sama kelanjutannya, tapi mata sudah lelah, ya jangan dipaksain. Tujuan nonton buat hiburan, malah jadi menyiksa diri. Hahaha.. *kamu gak sendirian bund 😃*
  • Setelah saya tau apa yang saya butuhkan dan mengukur diri dengan kemampuan yang ada, maka eksekusi! Jangan menunda pekerjaan yang sudah jelas bisa saya lakukan saat itu. Karena menunda sama artinya sama membuang waktu yang gak bisa kembali lagi
  • Lakukan kerjaan yang hanya bisa dilakukan sendiri, yang sekiranya bisa didelegasikan, maka delegasikan. Karena kadang jiwa multitasking sebagai mak-mak ini begitu menggelora, mau ngecat kamar sendiri, mau benerin kran sendiri, mau nyuci mobil sendiri, mau masak sendiri, mau nyabutin rumput sendiri, mau nyetrika baju sendiri dsb. Iya, mungkin memang bisa saya lakuin semua sendiri, tapi apakah waktunya cukup? tenaga nya kuat? Balik lagi harus bisa mengukur diri ya bund, kalo keteteran malah ambyar semua
  • Bikin skala prioritas. Mana yang harus dilakukan dulu. Dan jika masih bisa memilih antara beberapa pilihan, pertimbangkan hal yang paling menguntungkan. Misalnya, antara pekerjaan rumah dengan kebutuhan olahraga. Mana yang duluan dilakuin? Sama-sama pentingnya yaa.. kalau boleh milih sih saya mending goler-goler sambil nonton K-Drama 👯.
        Pekerjaan rumah, kalau jadi skala prioritas pertama, ya gapapa.. Kalau saya type mamah selow soal pekerjaan rumah. Jadi settingan di otak ini rumah berantakan itu masih bisa dimaafkan. Tapi bagi sebagian bunda-bunda, ada debu nempel di karpet mungkin langsung bersin, jadi bagi bunda-bunda waktunya akan lebih banyak di situ, dimanfaatkan baik-baik untuk menyelesaikan pekerjaan rumah karena itu sudah menjadi prioritasnya. 

        Olahraga, penting juga. Kalau saya dihadapkan dengan pilihan : olahraga di luar rumah ketemu banyak orang, ketemu pemandangan alam, ketemu udara segar, ketemu spot foto tik-tokable, tapi dari persiapan ini itu bla blah sampai selesai butuh waktu berjam-jam. Atau olahraga sendiri di rumah, rutin tiap pagi, atau dua hari sekali, modal matras dan tayangan di youtube, atau aplikasi di smartphone, hanya butuh waktu paling lama 15-20 menit. Sisa waktunya bisa saya alokasikan untuk kegiatan lain. Tujuan olahraga sama, hanya caranya aja yang beda.


Kembali lagi pada kebutuhan dan prioritas yang berbeda tiap orangnya.. Jadi, saya harus paham betul, prioritas apa yang saya pilih dan harus saya penuhi.


Lanjuuut..


  • Bangun lebih pagi, tidur lebih cepat. Bukan anti begadangan, apalagi bunda-bunda menyusui sekaligus mahasiwa dan kerja kantoran seperti saya, tapi kalau-kalau harus menyusui bolak-balik di malam hari, berarti saya harus bisa tidur lebih cepat. Masih ada kerjaan yang belum selesai? Masih harus mendampingi anak BDR? Masih ada tugas kuliah yang harus dikumpulin segera? Tidur cepat, tapi bangun lebih cepat juga. Yang biasanya kita lakukan malam hari sebelum tidur, diganti lakukan pagi hari setelah tidur. Menurut saya ini sih efektif banget.
  • Disiplin dengan target dan tujuan. Target saya sebelum jam 07.30 harus sudah sampai di kantor. Berarti maksimal 07.15 saya sudah harus berangkat dari rumah. Target saya sebelum jam 17.00 harus sampai rumah, berarti saya harus bisa menyelesaikan kerjaan kantor sebelum 16.45. Target saya bisa menyelesaikan pekerjaan A sebelum tanggal 10, ya selesaikan masalah yang kira-kira bisa menghambatnya biar kelar tepat waktu. Tujuan saya habis bersih-bersih rumah, lanjut nonton film 15 menit, atau lanjut main sama anak-anak, atau mau tidur siang selama 30 menit dsb, jadi jangan melenceng malah ngerjain yang lainnya, lakukan sebisa mungkin sesuai target dan tujuan.

Kemudian setelah beberapa waktu berjalan, review lagi.. sudah bener belum ya antara rencana, target/tujuan yang sudah saya lakukan? Kalau efeknya positif, lanjutkan dan lakukan dengan konsisten, minimal mempertahankan. Tapi kalau sekiranya terlalu berat, maka kembali lagi harus bisa mengukur diri. Bagian mana yang harus di atur lebih pelan, mana yang harus dipercepat lagi.


Sebagai generasi latah 😂 , memang kadang susah banget soal mengendalikan diri. Maunya ikut-ikutan, gak liat-liat sama kebutuhan diri yang sebenarnya. Mau melakukan ini itu, seperti dia, seperti mereka, seperti teman-teman, seperti orang lain di luar sana, tapi gak kenal sama diri sendiri. Latah boleh, tapi tetep harus bisa terkendali.


Jadi teman-teman.. mungkin ini cara membagi waktu versi saya, lagi-lagi jangan diterima mentah-mentah yaa... bisa dicari lagi sumber-sumber terpercaya yang sudah terbukti berhasil, sukses, dengan cara-cara mengagumkan dari para pakarnya.


Semoga kita bisa memanfaatkan 24 jam yang ga akan bisa kembali ini 😐


Designing your life, sampai ketemu di part part selanjutnyaaa and aiwafyuuu :)

2020, makasih yaa!

Dari tulisan ini diposting, berarti masih sebulan lagi tahun 2020 habis, eh tau-tau sudah mau ganti taun lagi.


Tahun 2020 memang beda, karena tiba-tiba pandemi covid-19 datang tanpa diundang. Beberapa hal menjadi hal yang baru atau diluar kebiasaan, sempat beberapa bulan dapat WFH (Work From Home) dan sampai hari ini anak-anak juga masih sekolah dari rumah. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.


Tahun 2020 sedikit banyak memberi insight, hikmah, pelajaran baru. Ngeri iya, takut ada, gelisah, khawatir, parno banget, juga sempet ngerasain kayak gitu. Normal kan ya, karena baru sekali ini ngalami pandemi, dan semoga ini yang terakhir juga.. 


Hikmah pandemi, belajar tentang konsisten. Konsisten cuci tangan (yang bener), gak sembarangan pegang barang, keluar rumah juga seperlunya. Tapi belum bisa konsisten olahraga.. makan juga gak diatur, jam tidur kadang masih berantakan, dll.


Tapi ternyata soal sehat, gak terus-terusan urusan fisik. Sehat mental dan jiwa juga penting. Kondisi pandemi ini banyak orang yang depresi dengan berbagai macam faktor. Jangan juga karena sudah rajin olahraga jadi pura-pura bahagia.. fisik aja yang dituntut untuk sehat, tapi mental dan jiwanya dicuekin.


Karena untuk menjalani hidup yang seimbang (menurut saya - beda pendapat boleh aja kok), menurut saya kesehatan mental, jiwa dan fisik memang harus seimbang juga, selebihnya, rasa bahagia, tenang, dll akan ngikutin tanpa perlu diciptakan dengan sesuatu yang berlebihan. 


Bahkan dari mental yang sehat, fisik juga bisa ikut sehat, jiwanya juga dapat sehatnya. Karena mereka memang saling berhubungan.


Merawat mental dengan asupan yang tepat. Salah satunya dengan menyadari dan paham sama rasa dan pikiran kita sendiri, sehingga emosional bisa diatur. Gak hanya tentang rasa bahagia, tapi rasa marah, sedih, kecewa, itu hal yang perlu dipelihara juga. 


Saya merasa, di tahun ini, emosional sudah lebih terkontrol. Sedih, ya ga akan saya buat sedih banget. Bahagia juga gak akan saya polin rasa bahagianya. Karena masing-masing emosi punya ruang dan bagian sendiri. Your mind and your soul will control it. Yap, pikiran dan jiwa kita sendiri yang berhak mengatur porsinya. Mungkin ini yang bisa bikin saya merasa jauh lebih baik. Rasa sadar, memahami diri sendiri, ngerti apa yang dirasakan, dipikirkan dan yang akan dituju apa.. jelas. 


Tapi soal kesehatan fisik saya ngaku masih jauuuh dari angan-angan (tolak ukurnya jennifer bachdim sih sis? lol) ~ fisik hanya sebatas perut kenyang, tidur nyenyak, kerja gak berlebihan hahahaaa.. tapi kedepannya akan diusahakan untuk rajin olahraga 😋.


Jadi, 2020 ini memang gak banyak pencapaian yang bisa dilihat dan tidak akan saya rangkum disini (yang mungkin pernah saya tulis seperti tahun-tahun sebelumnya), karena memang ga ada ukuran untuk bisa dijabarkan juga. Karena semuanya soal rasa... :D


Semoga berawal dari hari ini, hari-hari kemarin, dan mulai saat ini saya akan berusaha mendesain diri saya dan hidup ini biar lebih baik lagi, tentunya biar saya gak merasa sia-sia sudah dikasih kesempatan untuk menjalani hidup yang hanya sekali ini..


Akhirnya, 2020 terimakasih! 


I won't dream too much, but I want to love myself and what I have with full conscious and fully happiness.. kept healthy and love your soul!

 

 

2020, Akhirnya Kuliah Psikologi.

Setelah berpikir berkali-kali selama bertahun-tahun lamanya... akhirnya tahun ini mutusin buat kuliah. Kuliah sesuai jurusan yang diinginkan selama ini. Psikologi, waw! Sebagai orang yang lahir dan besar dari jurusan teknik, kemudian berubah haluan ke ilmu kejiwaan manusia. Menyenangkan sih menurut saya, bisa menjalani hal baru sesuai keinginan yang sudah lama terpendam.

Suami sudah jelas jadi pendukung paling depan. Tanpa ijin dan ridhonya, apalah aku sebagai seorang istri. Beruntunglah sampai hari ini juga dia masih ngijinin saya kerja (week day), dan ketambahan kuliah (week end). Tentu dia lah pendukung terbaik, dukungan secara moril dan materiil tentunya heheee...  

Gimana ngatur waktunya? 

Pandemic ini ada hikmahnya juga, perkuliahan semuanya dilakukan daring. Jadi di sela-sela ndengerin dosen ngasih materi saya masih bisa sambil nyusuin yang bayi (cam off), jadi semuanya masih bisa diatur dan dikendalikan dengan aman. Entahlah nanti jika perkuliahan sudah normal kembali, saya akan merelakan satu hari full dari pagi sampai malam untuk fokus di kampus. Doakan yaaa.. semoga bisa dan lancar sampai lulus... aamiin.

Anak-anak juga super pengertian. Kadang sampai terharu sendiri, ketika saya minta waktu untuk gak diganggu dulu karena lagi ujian, mereka juga berusaha ngertiin. Meskipun kuliah daring, tapi tugas hampir selalu ada, saya berusaha nyelesein tugas sebaik dan setepat waktu mungkin. Bukan mengejar nilai semata, tapi berusaha menyadari secara penuh, bahwa tujuan saya kuliah untuk cari ilmu yang gak bisa saya dapat di luar sana. Jadi, harus tanggung jawab.

Ini baru semester satu yaaa.. tapi seneng rasanya karena dapat teman baru, kenal beberapa dosen, dan yang jelas dapat ilmu psikologi (dan statistika tetep ada ya! haha)

Semoga langkah ini menjadi langkah yang baik, dan bisa membantu saya mendesain hidup biar lebih memberi arti dan manfaat..


Semangat!



#IniUntukKita - Dari SBN, Kini Saya Bisa Bantu Negara dan Punya Penghasilan Tambahan Setiap Bulan

Tahun 2019, berawal dari sebuah postingan di media sosial oleh akun financial consultant tentang SBN.


Saya, ibu-ibu yang gak paham investasi akhirnya bisa bantu negara dengan berinvestasi di SBN Ritel, sekaligus bisa dapat penghasilan tambahan setiap bulan. Wow, bangga sih. 


Surat Berharga Negara atau disingkat SBN adalah hal baru yang saya kenal dalam satu tahun terakhir. Rasa penasaran itu akhirnya membuat saya terus “kepo” apa itu SBN? Yang nampaknya ribet tapi ternyata gak seribet itu juga. Lalu merasa yakin untuk memulai investasi. Akhirnya untuk pertama kalinya saya berinvestasi SBN Sukuk Tabungan (ST004) tahun 2019 lalu.


Beberapa kali saya posting juga di sosial media tentang investasi SBN yang sudah berjalan setahun ini. Banyak teman yang tanya, apa sih SBN? Hah, investasi? Aman gak? Halal gak? Keuntungannya apa? Trus caranya gimana?


Sama dong. 


Awalnya saya juga gak tau apa-apa. Tapi intinya gini, SBN adalah Surat Berharga yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai anggaran negara dan bisa menjadi instrumen investasi bagi investor karena bisa memberikan imbal hasil/ keuntungan. 


Nah intinya seperti itu, jadi pointnya : bisa bantu negara sekaligus dapat imbal hasil.


Sedangkan keuntungan dari SBN coba saya rangkumkan yaa..


1. Minimal pembelian Rp 1.000.000, jadi gak harus punya kekayaan yang luar biasa baru bisa jadi investor. Tentu tidak. Mahasiswa, Ibu rumah tangga, juga bisa banget 

2. 100% aman karena dijamin oleh undang-undang. PENTING. Hati-hati ya dengan tawaran investasi dengan bagi hasil yang menggiurkan dan gak masuk akal. Bisa jadi itu investasi bodong

3. Untung hingga 6% per tahun

4. Berkontribusi untuk negara

5. Mudah dan praktis banget. Pendaftaran bisa lewat online, ada banyak pilihan Mitra Distribusi yang menjual SBN secara online

6. Beberapa jenis SBN bisa dicairkan lebih awal 


Nah, dari keuntungan yang disebutkan itu kira-kira sudah menarik buat investasi di SBN Ritel belum?


Kalau saya sih, Yes!


Betapa enggak, dengan menyisihkan uang satu juta rupiah saya bisa mendapatkan imbal hasil setiap bulan. Imbal hasil/keuntungan/kupon yang diberikan mungkin memang tak se-spektakuler iklan-iklan investasi (yang bisa jadi investasi bodong?). Tapi saya memilih SBN Ritel karena saya mau cari aman dan yang bikin hati tenang karena sudah dijamin oleh undang-undang, imbal hasilnya juga pasti, dan sekaligus bisa bantu negara. 


Untuk jenis SBN sendiri ada beberapa, kalian bisa pilih mana yang paling pas sesuai kondisi masing-masing ya.


www.irvianaayu.com



Saya sendiri membeli beberapa seri Sukuk Tabungan (ST) karena merupakan produk investasi syariah, yang pengelolaannya dengan prinsip syariah. Jadi bagi kalian yang masih ragu, apakah ini halal atau tidak, Sukuk Tabungan (ST) dan Sukuk Ritel (SR) sudah ada pernyataan kesesuaian syariah dari Dewan Syariah Nasional MUI. 


Seperti ini suratnya, untuk lengkapnya bisa download langsung di website www.kemenkeu.go.id


Sumber : www.kemenkeu.go.id




Trus gimana cara kerjanya? 


Contohnya gini..


Dalam masa Penawaran Sukuk Tabungan (ST 005 misalnya)  saya berinvestasi Rp 5.000.000. Satu minggu setelah penawaran berakhir, Kemenkeu akan melakukan pencatatan surat berharga atas nama saya. Paling lambat dua minggu setelah pencatatan, surat kepemilikan akan dikirim ke investor (saya) melalui e-mail. Kemudian imbal hasil yang sudah dipotong pajak akan langsung dikirimkan ke rekening setiap bulannya sampai jangka waktunya berakhir. Nah, setelah setahun, saya juga bisa mencairkan maksimal 50% dari total investasi jika memang saya butuh dana, kalau gak juga tidak apa-apa. 


Sudah gitu aja. Praktis ya. 


Nah, ini untuk melihat simulasi yang bisa diterima setiap bulan :


(Tingkat imbalan/ kupon yang berlaku x 1/12 x Rp 5.000.000,00) - 15% dari total pendapatan kupon untuk pajak final nya


Contoh bukti nyata kalau kupon/imbal hasil ditransfer setiap bulan ke rekening :




Sumber : Email pribadi

Rasanya seneng banget, karena bisa berinvestasi sekaligus bantu negara. Terlebih di tengah situasi pandemi saat ini. Negara ini butuh bantuan kita untuk memulihkan kembali roda perekonomian dan meneruskan pembangunan negara. 


Selain itu, kita juga akan memperoleh imbal hasil setiap bulan selama jangka waktu yang sudah ditetapkan dan ditransfer ke rekening kita tepat waktu. Padahal saya juga gak ngapa-ngapain, gak ikut pusing mikir mau diapakan uang ini, tinggal terima imbal hasilnya. Ooh sebagai ibu-ibu pasti senang sekali.


Jadi menurut saya pribadi, jika kita punya uang lebih (hmm.. sepertinya harus dipaksa buat nyisihin di awal, jangan nunggu sisa-sisa baru buat investasi, hehe) daripada uang kita hanya mengendap di rekening, atau bahkan mengendap di rekening orang lain alias habis buat belanja.. lebih baik kita investasikan ke jalan yang benar. Salah satunya di SBN Ritel ini. Cocok!


Saya kasih sedikit tips (ini atas pengalaman pribadi ~ just share yaa), gimana cara memulai investasi SBN Ritel. Karena berinvestasi gak harus nunggu kaya dulu. Tapi memang harus nunggu dana dulu. LOL.


Tipsnya gini..


Setelah gajian, langsung nyisihin dana untuk persiapan beli SBN Ritel sambil nunggu jadwal penerbitannya. Biasanya ada jeda waktu beberapa bulan, jadi bisa banget nyisihin dikit-dikit sampai penerbitan itu tiba.


Setelah ada niat dan usaha buat nyisihin penghasilan, langkah berikutnya adalah bersiap membeli SBN Ritel pada Mitra Distribusi resmi. Untuk daftar midis diantaranya ini atau bisa dilihat di website www.kemenkeu.go.id 





Kemudian registrasi online pada Mitra Distribusi yang sudah dipilih, lalu Install Aplikasi untuk memudahkan transaksi. Dan tinggal tunggu jadwal penerbitan SBN Ritel, proses pembelian SBN, selesai deh.


Prosesnya cepat, gak ribet dan tinggal nunggu transferan bagi hasil tiap bulannya.


Untuk mendapatkan informasi terbaru, bisa follow  IG : djpprkemenkeu, (saya mau ucapin terimakasih karena adminnya aktif dan fast respon 😊)


Jadi sudah siap menyambut SR013 tanggal 28 Agustus 2020? 


Yuk, mulai berinvestasi di SBN Ritel! Karena selain mendapatkan imbal hasil, kita juga bisa berkontribusi untuk pembangunan negara, untuk Indonesia yang harus terus Maju


Inget ya ibu-ibu, harga skincare mahal, quota internet juga gak gratis. Rajin-rajin investasi yuk, sedikit-sedikit asal mau dan konsisten juga nanti akan kelihatan hasilnya. Sama seperti muka kita, kalau rajin dirawat juga akan shining pada waktunya. 


#IniUntukKita

#IniUntukKita

#IniUntukKita


Sungguh hashtag yang benar-benar mengajak kebaikan untuk kita bersama.


Hai pahlawan negara, aku tunggu aksi nyata kalian dalam membantu negeri dengan investasi di SBN Ritel ya! 



Umroh Backpacker Dan Lagi Hamil ??

Foto diambil dari Roof Top Masjidil Haram - 28.03.2019


Beberapa waktu yang lalu saya dan suami berkesempatan melaksanakan umroh backpacker. Umroh berdua (eh bertiga sama bayi di perut) alhamdulillah keturutan tahun ini. Niat umroh sekitar dua bulan yang lalu setelah saya ketahuan hamil. Gak tau entah kenapa, justru bukan menghindari perjalanan jauh, tapi malah minta umroh 😋.


Backpacker Ke Turki Lagi Hamil Muda

Sebenarnya ada beberapa alternatif jadwal keberangkatan maupun travel umroh yang masuk list. Dan diantara semua alternatif yang saya bikin (suami ngikut apa kata istri 😜), akhirnya kami memilih untuk umroh backpacker dengan menekan biaya yang sekiranya gak perlu-perlu banget, dan memilih waktu setelah kehamilan saya memasuki trimester dua.

  
Kenapa backpackeran?
Banyak banget yang nanya..
Jawabannya ya karena lebih murah.
Apakah backpacker urus visa sendiri? Ngemper di masjid dan nyari makan sendiri?
Bedanya apa dengan umroh biasanya?
Berapa biayanya?
Gimana perjalanannya?
Pasti  banyak yang penasaran ya? Hehe
Iya, banyak banget DM maupun pertanyaan langsung ke saya terkait perjalanan umroh kemarin.


Cerita dulu yaa..

Sebenarnya gak sengaja waktu itu saya nyari-nyari “umroh backpacker” di Instagram (ooh.. terimakasih Instagram!). Kemudian nemu beberapa account IG yang memang mereka menyediakan umroh backpacker. Diantara beberapa account tersebut, saya paling kepo sama IG satu ini.

Follow sudah agak lama, tapi belum kepikiran buat kepo lebih dalam lagi. Seiring berjalannya waktu, karena makin penasaran, saya coba hubungi langsung founder bisaumroh.id. Pesan Whats App dibalas, dapat informasi langsung saya share ke suami.

Suami gimana?

Gak bergeming 😂. Hehe.

Beneran gak nih ada umroh murah kayak gini? Kenal dimana? Tau darimana?  Sosmed? 
Maklum suami saya gak main sosmed, hahaaa.

Ya memang sih saya gak kenal foundernya, lihat mutual friend di IG juga waktu itu belum ada. Saya pun gak nyerah, kepo stadium akut mulai menyerbu. Ternyata founder UBP ini temennya artis si A, B, C yang komunitas hijrah-hijrah itu, kalian pasti tau yaaa.. Terus makin yakin karena temennya artis wkwk!

Melihat kegigihan istrinya, suami akhirnya meng-OKE-kan UBP ini, jadilah istri yang urus-urus dan suami yang bayar 😁.

Kemudian kami memutuskan untuk berangkat bulan Maret. Karena kehamilan saya sudah masuk trimester dua dan gak mual-mual lagi.

Gimana vaksin meningitis? Kan lagi hamil. Hamil memang gak boleh vaksin meningitis. Tapi alhamdulillah saya baru vaksin setahun yang lalu, dan masih berlaku sampai tahun depan.


Giliran mau daftar, ternyata quota sudah habis bebs, yaaaah, belum rezekinya.

Akhirnya kami bikin plan B, antara tetap menggunakan travel tsb tapi jadwalnya mundur, atau ganti travel dan tetap di bulan Maret? Diantara kebingungan yang dibikin santai itu, tiba-tiba saya dapat WA dari Abi Erwin (foundernya), bahwa quota untuk pemberangkatan Maret dibuka untuk 90 jamaah lagi. Alhamdulillah, rezeki memang gak kemana, sayapun langsung daftar dan bayar DP supaya bisa dapat quota.

Yang penting sudah bayar DP dulu, urusan lainnya ya dipikir nanti lagi. Buat kami, terlalu banyak pertimbangan justru kadang jadi penghambat. Apalagi kalo niatnya baik, lebih baik disegerakan.

Oya, umroh backpacker ini memang harus siap mental ya. Siap melayani bukan dilayani. Saya ngerasa banget dari awal daftar sudah harus banyak mikirin ini dan itu. Jika dibanding dengan umroh-umroh sebelumnya, terutama untuk urusan administrasi. UBP ini semuanya diurus sendiri. Tapi masalah buat kami?

Sempat. Untuk saya yang lagi hamil, harus memantau group yang serame itu (180 jamaah) karena jangan sampai ada informasi penting yang terlewat, harus menyiapkan administrasi ini dan itu, dan terkadang respon admin yang sedikit lambat karena yang diurusin kan banyak, dan masalah receh itu  kadang membuat saya bete. Haha.

Tapi gak jadi masalah yang serius kok, setelah saya lakukan satu persatu tahapannya, alhamdulillah justru lebih lega dan puas karena serba urus sendiri.

Jadi, berapa biayanya?

Nah ini kan yang ditunggu-tunggu? 😜

Jadi biaya yang kami keluarkan kemarin diantaranya :

Paket 9 Hari Rp 16.650.000
Madinah 3 Hari
Makkah 4 Hari
Perjalanan 2 Hari

Harga termasuk :

  • Tiket pesawat PP CGK – JED. Kami berangkat dengan maskapai Malaysia Airlines. Cengkareng - Kuala Lumpur - Jeddah. Dan dilanjutkan ke Madinah menggunakan Bus. Pulang menggunakan Emirates. Jeddah - Dubai - Cengkareng. Dan percaya gak percaya, beberapa teman (random sih) dapat Bussines Class lo, iya random pada saat boarding, economy class dituker dengan boarding pass bussines class. Mantap ya! Oya jadi kemarin dibagi menjadi beberapa group dan rute, karena jamaahnya banyak. Ada yang menggunakan Saudia Airlines, ada juga yang menggunakan Oman Air. InsyaAllah nyaman semua.
  • Visa Umroh Reguler
  • Hotel di Makkah Bintang 4 (ELAF BAKKAH). Quad sekamar berempat. Harus menggunakan Shuttle Bus Saptco FREE 24 Jam (naik dari depan hotel, turun di pelataran Masjidil Haram). Perjalanan naik bus cukup 2 menit saja sudah nyampe, malah gak cape karena gak kebanyakan jalan.
  • Hotel di Madinah Bintang 3 (MAKAREEM PLAZA), Quad sekamar berempat. Sangat dekat  Masjid Nabawi. Kurang lebih 150 meter. Setiap hari melewati Museum Al-Qur'an.
  • Makan 3x sehari menu Indonesia dan snack setiap city tour.
  • Bus city tour Madinah dan Makkah.
  • Muthawif sudah mendampingi sejak penjemputan di bandara sampai pengantaran di bandara.
  • TL (Tour Leader) yang mendampingi sejak pemberangkatan di Cengkareng Indonesia sampai kepulangan ke Cengkareng Indonesia.
  • Air Zam-Zam 5 Liter
  • Shawl UBP


Biaya diluar itu :

  • Tiket PP JOGJA – CENGKARENG (kemarin kami menggunakan pesawat, dua orang estimasi 4 juta untuk saya dan suami). Kalau mau lebih irit bisa naik kereta api.
  • Infak Manasik H-1 di Hotel Rp 80.000/ jamaah (manasiknya keren banget, sampai 3 jam, meskipun sebelumnya kami pernah Umroh, tapi kali ini rasanya lebih mantep persiapannya).
  • Hotel Ibis (satu lokasi dengan manasiknya) untuk menginap malam sebelum berangkat karena  kita dari luar kota, dan jadwal penerbangan pagi, jadi kami menginap di hotel. Rp 390.000/kamar (berdua dengan suami).
  • Pajak Sipatuh Rp 200.000/ jamaah.
  • Cover Koper Rp 35.000/ jamaah.
  • Rekam Biometrik Rp 113.000/ jamaah (dibayar di kantor VFS TASHEL).
  • Visa progressif 2000 SAR atau Rp 8.500.000/ orang. Suami kena, tapi saya gak. KOK BISAAA? Memang sudah rezekinya bahwa passpor saya ternyata dua bulan lagi expired, ketauan pada saat mau nyerahin berkas. Duh bahagianya. Hahahh. Akhirnya bikin baru, dan karena ini pertama kali saya melakukan rekam biometrik, maka rekam visa sebelumnya belum terecord.

Jadi jika ditotal biaya yang dikeluarkan kira-kira Rp 38.433.000 berdua sebelum kena visa progressif. Tinggal ditambah 2000SAR untuk visa progressif.

Masih cukup murah menurut kami dengan fasilitas yang ternyata MasyaAllah.. memuaskan selama disana.

Jadi kalau dilihat, perbedaan dengan umroh reguler, UBP ini gak dapat koper, gak dapat seragam dan perlengkapan lain yang kita bisa siapkan sendiri kok. Mental melayani bukan dilayani.


Alhamdulillah justru ini yang membuat kami merasa lebih fokus ibadahnya. Bahkan, uang saku yang kami keluarkan, adalah sisa uang saku umroh tahun lalu.. Jadi nyaris gak keluar uang lagi selama disana. Dan inipun masih sisa (berdoa bisa dipakai buat umroh lagi.. aamiin).

Jadi, umroh backpacker bukan berarti gak bawa koper maupun ngemper di masjid ya gaes...

Visa juga sudah diurusin kok. Makan diurusin. Muthawifnya 24 jam sama kita, jadi kalau butuh pendampingan selalu siap. Beberapa travel, muthawif hanya pada saat rukun umroh dan city tour saja, tapi kemarin sama-sama terus. Dan masing-masing group muthawifnya masing-masing. City tour lengkap, banyak tempat yang sebelumnya belum pernah kita kunjungi, jadi kemarin seneng banget karena banyak tau tempat baru. Beberapa jamaah ada yang request city tour diluar paket, tetap difasilitasi dengan penambahan biaya.

Gimana dengan kondisi hamil? Capek gak? Ya capeeeek... tapi seneng 😍. Seneng banget.

Alhamdulillah masih kuat tawaf, dan berterimakasihlah kepada suami yang selalu siaga melindungi istrinya *ini sih wajib*. Masih kuat bolak-balik Hotel Masjid pakai bus. Masih sanggup ke Raudah. Masih sanggup tawaf di rooftoop meskipun cuma dua putaran habis itu dilanjutin di bawah 🤣. Yang berat justru pada saat Sa’i kalau menurut saya, karena energi sudah kepake tawaf, dan Sa’i ini jalannya nanjak. Jadi masyaAllah cukup pegel kaki sama pinggul, tapi alhamdulillah lancar semuanya.

Gak ada vitamin/suplemen khusus yang saya konsumsi kemarin. Hanya vitamin yang tiap hari diminum yang dari dokter. Makan apa adanya. Cuma agak nyesel gak bawa sambel Bu Rudy atau Bon Cabe dari rumah.. 😋

Secara keseluruhan, perjalanan umroh kemarin sangat berkesan buat kami. Alhamdulillah.

Semoga teman-teman yang berniat untuk Haji dan Umroh dimudahkan dan disegerakan.. aamiin

Beberapa foto perjalanan kemarin :

Perjalanan dari hotel menuju bandara
Group 1 di Bandara Soeta - Indonesia (gambar diambil dari Group)

Tiba di KLIA - Malaysia
KLIA - Malaysia
Boarding KL - Jeddah


Gang ke Hotel biar gak nyasar 😅

Hotel Makareem Plaa Madina - google.com
Kamar Hotel di Madinah

Manasik lagi di Madinah (gambar diambil dari Group)
Jamaah perempuan - Miqat di Masjid Bir Ali (gambar diambil dari Group)

Sebagian Jamaah Laki-laki. Miqat di Masjid Bir Ali (gambar diambil dari Group)






Lobi Hotel Elaf Bakkah Makkah - google.com



Kamar di Elaff Bakkah Makkah - google.com


Restaurant Hotel di Makkah
Suasana menunggu Bus
 



Jadi, umroh backpacker bisa jadi pilihan. Banyak yang bawa anak kecil atau bawa orangtua, yang berangkat sendiri dan sebelumnya belum pernah kesini, semuanya bisa. InsyaAllah semuanya bisa umroh. Aamiin

Semoga tulisan ini bermanfaat ya... yang sudah pernah umroh backpacker, boleh share juga dong :)


Baca juga pengalaman umroh dengan kursi roda

















18 Habits To Improve My Everyday Life

Hello. Sudah bulan Maret ya ini.

Ini adalah postingan pertama tahun ini dan postingan pertama setelah perpanjangan domain. Haha.

Kalau dilihat beberapa postingan di awal tahun-tahun sebelumnya, kenapa selalu nulis tentang milestone atau resolusi ya? Why why why?



Eiya, sebenernya postingan ini terinspirasi dari blogpost nya atiit, waktu itu dia nulis “20 habits to improve my everyday Life”. Wah jadi pengen juga. Merasa telat juga sih, di umur saya yang sekarang sudah masuk kepala tiga, memang banyak kebiasan/ habits yang perlu di improve di sisa hidup saya setiap harinya.

Kebiasaan yang perlu di-improve ini tiap orang pasti beda-beda. Beda karakter, beda latar belakang, beda kesibukan, pasti gak sama. Kebiasaan baik ini berusaha saya terapkan dan berusaha disesuaikan dengan keadaan, meskipun beberapa memang harus dipaksakan (bukan menyesuaikan keadaan, tapi keadaan yang harus berubah ke hal yang lebih baik) karena memang perlu untuk jadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Beberapa kebiasaan baik yang sudah berjalan di tahun-tahun sebelumnya dan pengen lebih konsisten lagi di tahun-tahun berikutnya, dan beberapa kebiasaan baru yang belum pernah atau sangat minim dilakukan di tahun-tahun sebelumnya dan baru akan memulainya sekarang dan inginnya konsisten untuk seterusnya, diantaranya :


  • Beli barang secukupnya, punya barang sebutuhnya

PR banget buat decluttering segala sandang di lemari saat ini. Belum kelar-kelar sampai hari ini. Dari jilbab, celana, rok, gamis, blouse, jaket, kaos kaki yang banyaknya naujubileh... mulai pelan-pelan diberesin. Simpan yang benar-benar bikin spark joy dan harus tega pilih secukupnya saja, selebihnya keluarkan. Pun dengan sandang anak-anak dan suami. Selain baju, tas dan sepatu juga ya.

Pengennya sih begitu. Tapi kalo dipikir belum sanggup untuk dihibahkan yasudah yasudah disimpan aja dulu siapa tau bisa dipakai Hanin nanti (tekadku sungguh lemah 😂). Tapi sudah stop beli-belinya ya!

Selain sandang, urusan perabotan rumah. PR yang gak kalah berat lo, karena sembilan tahun hidup berumah tangga dari jaman jadi anak kos sampai sekarang punya anak tiga barang dirumah nambah terus.


  • Gak gonta ganti kacamata

Sebagai manusia yang bergantung dengan kacamata dan suka kecentilan, koleksi kacamata jadi sebuah keharusan (saat itu). Senin selasa rabu kamis jumat weekend, pakai baju ini dan itu acara ini dan itu, harus ya kacamata juga menyesuaikan? Dan nyatanya, yang dipake ya cuma itu-itu saja. Jadi cukup satu kacamata saja gak beli-beli lagi.


  • Tidur lebih cepat dan bangun lebih cepat

Sebagai ibu yang punya anak bayi dan masih menyusui, impian tidur nyenyak memang kadang hanya wacana. Hampir dipastikan setiap malam akan bangun untuk nyusuin, atau sekedar benerin posisi tidur anak-anak, setting suhu AC yang suka tiba-tiba kepanasan atau kedinginan, ngoles-oles minyak sepanjang malam kalau mereka lagi kurang fit, nemenin mereka pipis tengah malam biar gak ngompol, dsb.

Kadang bisa tidur lagi, kadang gak bisa. Kadang bangun kesiangan, kadang ontime tapi masih ngantuk-ngantuk. Maunya tidur lebih awal dari biasanya, jadi waktu istirahat tetap terpenuhi meskipun tidur nyenyak sepanjang malam tetap akan jadi wacana selama punya bayi dan belum lagi akan punya bayi lagi. Huhu.
Tapi alhamdulillah saya dan anak-anak sudah mulai terbiasa tidur maksimal jam sembilan malam, bangun bisa sebelum subuh. Meskipun gak semulus itu tiap harinya, tapi saya merasa sudah ada progress ke arah yang lebih baik.


  • Baca workplan kegiatan anak dan prepare semua di malam hari

Sehubungan anak pertama baru kelas dua SD, maka beberapa keperluan sekolahnya masih disiapin sama ibunya. Kalau biasanya saya baru baca ulang workplan di pagi hari sebelum berangkat sekolah, sekarang minimal malam harinya. Karena kalau ada apa-apa bisa disiapin gak pakai buru-buru. Kadang gak dibaca ulang atau dibaca pagi hari, bisa jadi salah pakai seragam (ya ya ya kadang saya masih salah siapin seragam buat dua anak ini 😑), atau ketinggalan bekelnya, dll.

Begitu juga dengan saya sendiri, kalau bisa malam hari sudah siapin baju dan jilbab mana yang mau dipakai ke kantor besok. Karena sudah jadi kebiasaan setrika jilbab dulu sebelum berangkat. Pasti kalian juga gitu ya? Lumayan lo bisa menghemat waktu 5-10 menit.


  • Memulai pagi dengan lebih cepat

Kalau biasanya jam 06.30 anak-anak baru mulai sarapan, sekarang 06.30 sudah harus berangkat ke sekolah – dan kantor. Meskipun jarak rumah – sekolah anak – kantor gak terlalu jauh, tapi kadang banyak kejadian di pagi hari yang gak diduga-duga dan bikin saya telat sampai kantor.

Jalan macet apalagi kalau hujan, ketika sudah siap tiba-tiba ada yang mules dan harus nungguin pup dululah haha, si mamas suka tiba-tiba nangis gak mau sekolah padahal gak ada sebab, nangisnya gak santai, sampai batuk akhirnya muntah dan ngotorin baju seragamnya, si bayi yang minta ikut satu putaran komplek dulu, atau sudah sampai tengah jalan ada yang ketinggalan dan harus putar balik lagi, ya begitulah cerita indah di pagi hari 😁.


  • Berdamai dengan inner child

Karena inner child adalah bagian dari kepribadian kita yang akan terus menempel pada diri kita. Tapi bukan berarti kita tidak bisa meninggalkan atau mengubahnya. Dengan cara berdamai dengan inner child, maka saya akan lebih mampu mengelola, mengendalikan, memahami, memafkan, menyayangi diri sendiri, menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri, menghargai semua pengalaman negatif dan positif yang saya dapat semasa hidup. Noted. Saya dilahirkan bukan dari keluarga dongeng yang penuh kesempurnaan. Saya juga bukan ibu atau istri yang sempurna, masih banyak sekali kurang-kurangnya. Tapi saya mau berdamai dengan itu semua. Karena saya mau bahagia.


  • Connecting with self dan orang-orang di sekeliling kita

Sebagai anak rantau yang jauh dari orangtua, mertua, bahkan suami sendiri juga jauhan. Membentuk chemistry atau ikatan batin memang perlu. Selama ini merasa masih kurang intens berkomunikasi dengan keluarga-keluarga yang jauh disana. Meskipun saat ini sudah ada alat komunikasi yang serba canggih, tapi lebih sering komunikasi yang serius-serius saja.  

Masak apa ma? Sudah tidur belum yah? Tadi makan pake apa? HAHA.
Tapi rasa-rasanya kadang perlu juga. Gak harus melulu nanyain kabar atau ngomongin yang serius. Syukur-syukur bisa mengunjungi saudara-saudara langsung. Duh jadi kangen kan.

Termasuk kepada diri sendiri, harus lebih akrab dan sering berkomunikasi pada diri sendiri, mengenal karakter dan kepribadian sendiri, mau ngapain dan mau jadi apa saya.


  • Menerapkan gaya hidup minimalist, less waste, declutter and else

Mengenal less waste kira-kira baru setengah tahun belakangan ini. Yang akhirnya saya tergabung dalam Group BZW (Belajar Zero Waste) binaan ibu DK Wardhani. Banyak belajar tentang less waste, tapi baru sedikit yang bisa diterapkan. Huhu, gapapa gapapa.. ayo terus mencoba untuk less waste, minimalist, declutter dll untuk hidup yang lebih berkualitas, bumi yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih baik.


  • Peduli dengan kesehatan kulit

Why? Sejak hamil lagi muka ku bruntusan, kering, dan kusam parah. Terlalu mengabaikan dan gak peduli amat dengan masa depan kulit yang lebih cerah. Emang masa depan aja yang harus cerah, muka dong ah 😜.  

Less makeup (karena suami gak seneng akutu dandan, why ayah? Why?). Jadi, sekarang fokus ke perawatan kulit. Suami sangat ngebolehin istrinya bolak balik salon buat perawatan tapi gak buat makeupan everyday. Hahaha. Ya dengan senang hati ya kalau suruh nyalon spa spa terus.

Akhir-akhir ini mulai lagi belanja skincare, coba-coba skincare yang aman untuk ibu hamil, nanti di lain waktu saya bakal posting di blog juga yaa... beberapa skincare routin during pregnancy dengan harapan dapat secercah kulit muka yang lebih cerah. Aamiin.


  • Lebih banyak minum air putih

Sebegitunya dibikin habit yang perlu diimprove?
YES!
Karena saya tergolong jarang minum air putih sesuai kaidah yang sudah ditentukan. Katanya minumlah delapan gelas sehari, nyatanya saya gak pernah ngitung dan kayaknya sehari gak nyampe segitu. Disamping karena saya kadang masih sering jajan es teh segelas dua gelas tiap lunch bareng temen-temen kantor, jadi mungkin lebih baik dibanyakin lagi air putihnya dibanding minum es es atau minuman pabrikasi.


  • Bisa lebih fokus beribadah

Masih suka buru-buru kalau sholat? Gak khusuk pada saat berdoa? Mulailah untuk menikmati waktu yang berkualitas dengan Tuhan. Allah SWT. Karena hidupku pasti akan lebih tenang, menenangkan, dan nyaman sepanjang hari. Ibadah tepat waktu dan banyakin sholat jamaah, baik ketika di tempat kerja, di tempat umum, maupun di rumah.


  • Menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan orang-orang yang kita sayangi

Sudah sih, tapi maunya lebih banyak lagi. Ketemu suami lebih sering lagi. Syukur-syukur gak LDRan lagi. Anter anak-anak sekolah tiap pagi, saya antar sendiri sampai mereka disapa oleh gurunya. Dan ucapin kalimat postif sebagai penyemangat dan kasih pesan indah untuk memulai hari mereka biar lebih bahagia.


Assalamu’alaikum soleh solehahnya bunda. Selamat belajar dan bermain ya!



  • Lebih banyak membaca dan mendengarkan

Kalau kata instagram, follower itu harus dibudayakan membaca. Jangan dikit-dikit tanya gak mau baca. Iya sih, KZL juga rasanya. Kita sudah susah payah bikin caption atau edit foto se-informatif mungkin, tapi tetap gak mau dibaca. Maunya nanya aja, males baca. KZL gak?

Salah satu yang pengen saya upgrade saat ini adalah membaca lebih banyak lagi setiap harinya. Apapun itu. Email kantor yang isinya berita-berita terkini dulu sering kali saya abaikan, make a read, dan geser ke personal folder. Sekarang baca dulu deh, gak sampai lima menit sudah selesai kok. Dan hasilnya, banyak informasi baru yang bisa kita dapat lo.

Selain lebih banyak membaca, juga harus mulai banyak mendengarkan. Saya mengakui kalau saya ini keras kepala, banyak sok tau dan kadang gak mau dikalahkan pendapatnya. Mencoba untuk lebih down to earth, lebih banyak mendengarkan kanan kiri atas bawah, dan ini membuat saya merasa lebih sederhana dan lebih bisa menghargai perbedaan.

  • Lebih sering belanja di pasar tradisional atau swalayan lokal
Selain harga yang lebih murah menurut saya, juga lebih seneng gak sih kalau kita ikut memajukan para petani/ pengusaha lokal? Kalau saya sih setuju banget. Jadi sekarang sudah sangat jarang belanja bulanan ke supermarket besar. Swalayan lokal menurut saya sudah sangat cukup.

  • Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya
Untuk saat ini gak punya list buat liburan dalam waktu yang lama atau tempat yang jauh. Memanfaatkan waktu dengan anak-anak, dengan suami, dengan keluarga, dengan teman-teman, hanya dengan kegiatan-kegiatan yang menurut sebagian orang itu biasa saja. Kegiatan kecil, sederhana namun berkualitas. Karena mungkin waktu untuk bersenang-senang itu masih bisa kita manfaatkan untuk hal lain yang lebih berfaedah.

  • Lebih banyak memberi dan berbagi
Memberi dan berbagi gak harus soal materi atau barang. Memberi salam, senyum dan sapa juga bisa lo jadi hidup lebih indah (ciyeeee hidup 3S! 😊). Berbagi apapun yang saya rasa itu berharga buat saya. Karena biasanya yang berharga ini yang agak susah. Tapi dengan berbagi, membuat saya merasa bahwa rezeki itu gak pernah ada habisnya.

  • Menyederhanakan goals
Dalam berbagai peran di kehidupan, baik sebagai ibu bekerja, ibu rumah tangga, istri dari suami yang jauhan, ibu dari anak-anak, saudara, tetangga dll. Peran-peran itu berat dilakukan jika goals kita adalah menjadi yang sempurna di mata mereka.

Saya ibu bekerja, yang dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang sepertinya belum punya master plan untuk berkarier lebih jauh dari saat ini. Ya sesederhana itu. Memang saya merasa belum maksimal dalam hal berkarya, tapi saya selalu berusaha melakukan yang terbaik.

Sebagai ibu yang sering dipusingkan dengan berbagai macam style parenting, saya tidak menuntut diri saya untuk selalu benar atau bisa sesempurna itu. Kasih ruang untuk salah, untuk gagal, untuk minta maaf dan untuk selalu belajar. Dan ini membuat saya menjadi orangtua yang happy dan merasa percaya diri dalam mendidik anak-anak.

  • Lebih banyak mendoakan untuk kemudahan orang lain
Ini membuat saya merasa jadi insan yang lebih bermanfaat untuk orang lain. Selain mungkin saya gak bisa bantu banyak dalam beberapa hal, tapi setidaknya saya ingin banyak mendoakan untuk kebaikan dan kemudahan orang lain. 

Inilah 18 kebiasaaan yang sudah atau yang akan dilakukan untuk hari-hari kedepan. Mungkin seiring bertambahnya waktu, akan ada hal baru yang pasti pengen juga saya lakukan/ upgrade. Semoga postingan ini masih bisa terus belanjut yaaa..

Apakah kalian juga punya kebiasaan-kebiasaaan yang mau dipertahankan atau baru akan dibentuk?

Share juga yuk...


Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------