Designing Your Life: Build a Life that Works for You (pt. 1)

 *Judul postingan mengutip bukunya 


"Because a well-designed life means a life well-lived"


Setuju gak bahwa hidup yang dijalani dengan baik itu karena sudah dirancang dengan baik pula?


Terlepas dengan yang namanya takdir ya, karena tugas kita adalah berikhtiar. Artinya rancangan itu adalah bagian dari ikhtiar kita sendiri.


Banyak teman-teman yang suka nanya, gimana caranya bisa membagi waktu sih vi? Saya? Ooh tentu saya gak bisa menjawabnya, haha... Karena saya pun terkadang masih suka karep-karepe dewe' (semaunya sendiri)


Tapi saya mau membagi sedikit pengalaman pribadi, murni pengalaman pribadi, jadi jangan diterima mentah-mentah bahwa ini yang harus teman-teman lakukan juga yaa.. semoga bisa jadi bahan bacaan ringan dan kembali lagi kepada kebutuhan, keinginan, kemampuan, dan daya upaya masing-masing. Because people's needs are different 👌.


Oya, kenapa soal membagi waktu saya masukkan dalam designing my life? Oh sudah tentu, tanpa pembagian waktu yang tepat, maka rencana sebaik apapun tidak akan bisa terlaksana dengan baik.

  • Pertama, saya harus tau dulu kebutuhan saya seperti apa. Saya butuh bekerja dengan cepat, karena pekerjaan yang saya lakukan tidak hanya satu jenis. Breakdown yuk, bikin target mau diselesaikan kapan dan berapa lama. Kalau susah ngingetinnya, boleh dibikin list di kertas atau notes di smartphone. Selama ini saya jarang banget bikin notes, catetan, tulisan atau apapun buat ngingetin apa saja yang harus saya lakukan saat itu. Kayaknya, otak ini masih mau-mau aja menelan segala rencana dalam hari itu bahkan rencana beberapa hari kedepan, haha.
  • Kedua, saya harus bisa ngukur kemampuan saya sendiri. Fisik sehat kah? Mental sehat kah? Mood bagus kah? Jadi kegiatan apapun, saya gak mau maksain banget. Kalau fisik sudah merasa sangat lelah, biasanya gak saya lakuin saat itu juga, istirahat dulu, kalau mood sudah baikan, fisik sudah fit lagi, mental sudah siap menjalankan perintah, yuuk kita mulai. Jadi pointnya, gak maksain dan gak ngoyo ngono lo... Karena kesehatan fisik dan mental menurut saya jauh lebih penting dari sekian banyak kegiatan itu. Ya contoh aja, nonton K-Drama. Penasaran sama kelanjutannya, tapi mata sudah lelah, ya jangan dipaksain. Tujuan nonton buat hiburan, malah jadi menyiksa diri. Hahaha.. *kamu gak sendirian bund 😃*
  • Setelah saya tau apa yang saya butuhkan dan mengukur diri dengan kemampuan yang ada, maka eksekusi! Jangan menunda pekerjaan yang sudah jelas bisa saya lakukan saat itu. Karena menunda sama artinya sama membuang waktu yang gak bisa kembali lagi
  • Lakukan kerjaan yang hanya bisa dilakukan sendiri, yang sekiranya bisa didelegasikan, maka delegasikan. Karena kadang jiwa multitasking sebagai mak-mak ini begitu menggelora, mau ngecat kamar sendiri, mau benerin kran sendiri, mau nyuci mobil sendiri, mau masak sendiri, mau nyabutin rumput sendiri, mau nyetrika baju sendiri dsb. Iya, mungkin memang bisa saya lakuin semua sendiri, tapi apakah waktunya cukup? tenaga nya kuat? Balik lagi harus bisa mengukur diri ya bund, kalo keteteran malah ambyar semua
  • Bikin skala prioritas. Mana yang harus dilakukan dulu. Dan jika masih bisa memilih antara beberapa pilihan, pertimbangkan hal yang paling menguntungkan. Misalnya, antara pekerjaan rumah dengan kebutuhan olahraga. Mana yang duluan dilakuin? Sama-sama pentingnya yaa.. kalau boleh milih sih saya mending goler-goler sambil nonton K-Drama 👯.
        Pekerjaan rumah, kalau jadi skala prioritas pertama, ya gapapa.. Kalau saya type mamah selow soal pekerjaan rumah. Jadi settingan di otak ini rumah berantakan itu masih bisa dimaafkan. Tapi bagi sebagian bunda-bunda, ada debu nempel di karpet mungkin langsung bersin, jadi bagi bunda-bunda waktunya akan lebih banyak di situ, dimanfaatkan baik-baik untuk menyelesaikan pekerjaan rumah karena itu sudah menjadi prioritasnya. 

        Olahraga, penting juga. Kalau saya dihadapkan dengan pilihan : olahraga di luar rumah ketemu banyak orang, ketemu pemandangan alam, ketemu udara segar, ketemu spot foto tik-tokable, tapi dari persiapan ini itu bla blah sampai selesai butuh waktu berjam-jam. Atau olahraga sendiri di rumah, rutin tiap pagi, atau dua hari sekali, modal matras dan tayangan di youtube, atau aplikasi di smartphone, hanya butuh waktu paling lama 15-20 menit. Sisa waktunya bisa saya alokasikan untuk kegiatan lain. Tujuan olahraga sama, hanya caranya aja yang beda.


Kembali lagi pada kebutuhan dan prioritas yang berbeda tiap orangnya.. Jadi, saya harus paham betul, prioritas apa yang saya pilih dan harus saya penuhi.


Lanjuuut..


  • Bangun lebih pagi, tidur lebih cepat. Bukan anti begadangan, apalagi bunda-bunda menyusui sekaligus mahasiwa dan kerja kantoran seperti saya, tapi kalau-kalau harus menyusui bolak-balik di malam hari, berarti saya harus bisa tidur lebih cepat. Masih ada kerjaan yang belum selesai? Masih harus mendampingi anak BDR? Masih ada tugas kuliah yang harus dikumpulin segera? Tidur cepat, tapi bangun lebih cepat juga. Yang biasanya kita lakukan malam hari sebelum tidur, diganti lakukan pagi hari setelah tidur. Menurut saya ini sih efektif banget.
  • Disiplin dengan target dan tujuan. Target saya sebelum jam 07.30 harus sudah sampai di kantor. Berarti maksimal 07.15 saya sudah harus berangkat dari rumah. Target saya sebelum jam 17.00 harus sampai rumah, berarti saya harus bisa menyelesaikan kerjaan kantor sebelum 16.45. Target saya bisa menyelesaikan pekerjaan A sebelum tanggal 10, ya selesaikan masalah yang kira-kira bisa menghambatnya biar kelar tepat waktu. Tujuan saya habis bersih-bersih rumah, lanjut nonton film 15 menit, atau lanjut main sama anak-anak, atau mau tidur siang selama 30 menit dsb, jadi jangan melenceng malah ngerjain yang lainnya, lakukan sebisa mungkin sesuai target dan tujuan.

Kemudian setelah beberapa waktu berjalan, review lagi.. sudah bener belum ya antara rencana, target/tujuan yang sudah saya lakukan? Kalau efeknya positif, lanjutkan dan lakukan dengan konsisten, minimal mempertahankan. Tapi kalau sekiranya terlalu berat, maka kembali lagi harus bisa mengukur diri. Bagian mana yang harus di atur lebih pelan, mana yang harus dipercepat lagi.


Sebagai generasi latah 😂 , memang kadang susah banget soal mengendalikan diri. Maunya ikut-ikutan, gak liat-liat sama kebutuhan diri yang sebenarnya. Mau melakukan ini itu, seperti dia, seperti mereka, seperti teman-teman, seperti orang lain di luar sana, tapi gak kenal sama diri sendiri. Latah boleh, tapi tetep harus bisa terkendali.


Jadi teman-teman.. mungkin ini cara membagi waktu versi saya, lagi-lagi jangan diterima mentah-mentah yaa... bisa dicari lagi sumber-sumber terpercaya yang sudah terbukti berhasil, sukses, dengan cara-cara mengagumkan dari para pakarnya.


Semoga kita bisa memanfaatkan 24 jam yang ga akan bisa kembali ini 😐


Designing your life, sampai ketemu di part part selanjutnyaaa and aiwafyuuu :)

1 comment on "Designing Your Life: Build a Life that Works for You (pt. 1)"
  1. Lama bangettttt nggak mampir ke blog ini. Thanks maaakkk. Lha aku mahasiswa, yo kerja, tapi anak baru satu pun mau Gila hahaha

    ReplyDelete

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------