Image Slider

Pengalaman Umroh Dengan Kursi Roda

Bukan soal kita punya uang atau tidak, kita punya waktu atau tidak, kita sedang sehat apa tidak, tapi apakah kita benar-benar mau atau tidak.


Bagique...

Banyak hal yang sebenarnya ingin dicapai. Banyak keinginan yang sebenarnya ingin dimiliki. Banyak cita-cita yang sebenernya ingin diraih, banyak rencana yang sebenarnya ingin terwujud.

Ya namanya juga manusia biasa yang penuh hasrat, ambisi dan keinginan duniawi wkwkwkw..

Tapi semua itu selalu saya sandarkan pada kehendak Ilahi. Biar gak kelewat bates ambisinya. Terserah Allah. Allah tau yang terbaik, selagi kita mau bertawakal *catet ber-ta-wa-kal*, kita punya niat baik, mau berdoa dan berusaha. Allah akan buka pintu-pintu kemudahan itu.

Dari banyak keinginan itu salah satunya adalah :

bisa menemani Mama menjalankan ibadah umroh. Tepatnya di bulan Ramadhan sesuai keinginan beliau. 

Dan  bulan Ramadhan kemarin, alhamdulillah Allah memudahkan langkah kami sampai ke Tanah Suci.

Flashback dikit yaaa..
Rencana umroh bareng beliau sebenarnya sudah sejak tahun 2017 ketika saya sedang hamil anak ketiga. Saat itu kondisi kesehatan beliau mulai menurun. Waktu itu cuma mikir, masih cukupkah umur beliau untuk sampai ke Tanah Suci? Jadi tanpa banyak pertimbangan, tanpa harus menunggu bulan Ramadhan yang masih tiga bulan lagi, saya berniat untuk segera mendaftar umroh dalam waktu terdekat.

Saya waktu itu sedang hamil 6 bulan, tapi alhamdulillah vaksin Meningitis saya masih berlaku. Jadi aman lah untuk ibu hamil karena gak perlu vaksin ulang. Dan hamil 6 bulan masih diijinkan untuk naik pesawat. InsyaAllah secara fisik saya masih mampu berjalan jauh, melakukan Tawaf dan Sai yang menurut saya, mudahlah bagi saya.

Saya lupa, saya gak hanya membawa diri dan bayi dalam perut saja, melainkan saya harus membersamai beliau yang saat itu kondisinya untuk jalan aja susah. Ya, saking semangatnya saya lupa soal itu. *Jadi, terakhir beliau bisa jalan adalah ketika kita selesai bikin paspor*.

Memang ya semua sudah diatur. Mungkin Allah tunda keberangkatan ini karena Allah ingin kita kesana dalam waktu dan kondisi terbaik.

Jadi karena kondisi Mama waktu itu semakin menurun, pemberangkatan umrohpun akhirnya ditunda. Tapi niat untuk kesana gak hilang begitu saja, tetap ada dan terus diulang-ulang doanya untuk bisa kesana dalam keadaan dan waktu terbaik.

Dan alhamdulillah Ramadhan kemarin keinginan kami terwujud. Allah kabulkan di saat semuanya tepat....

Jadi, kemarin kondisi Mama sudah semakin membaik, untuk berjalan pelan beliau sudah cukup kuat, tapi untuk jalan agak jauh apalagi menanjak atau menurun beliau masih kesulitan.

Akhirnya saya dan suami sepakat untuk membawa (menyewa lebih tepatnya) kursi roda dari Indonesia.

Nah, kenapa akhirnya saya merasa perlu berbagi pengalaman umroh dengan kursi roda? Meskipun ini juga pengalaman pertama kami, karena mungkin ada yang merasa ragu, “saya sakit, saya susah jalan, apakah tetep bisa berangkat umroh?” , semoga dengan share pengalaman ini, bisa memberi semangat kepada teman-teman, bahwa sakit bukan jadi halangan untuk bisa sampai ke Tanah Suci ya!

Semoga teman-teman yang pengen kesana bisa segera terlaksana. Aamiin.

Jadi, kira-kira apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana persiapannya?


1. KURSI RODA. Sewa atau beli?  

Pertimbangannya apa bawa sendiri? Kan disana juga bisa sewa?

Pertimbangannya sewa disana jauh lebih mahal, kurang lebih 600 SAR atau setara 2,4 juta untuk rangkaian Tawaf dan Sai saja (mohon koreksinya jika salah) tapi harga segitu sepertinya sudah dengan jasa dorongnya. Sementara saya dan suami sepakat untuk bergantian ndorong dan tidak menggunakan jasa dorong.

Jadi, kayaknya lebih hemat kalau sewa sendiri dari Indonesia. Karena penggunaan kursi roda gak hanya pada saat Tawaf dan Sai saja, perjalanan hotel – masjid juga butuh kursi roda, jadi memang perlu banget bawa kursi roda sendiri.

Awalnya kepikiran untuk beli, karena toh bisa dipakai Mama juga sehari-hari nantinya. Tapi alhamdulillah beliau masih ingin belajar dan mencoba terus untuk bisa jalan tanpa bantuan kursi roda, meskipun kadang masih dibantu dengan kruk. Jadi, sewa adalah pilihan yang tepat.

Beberapa minggu sebelum berangkat, saya browsing jasa penyewaan kursi roda di Jogja.
Bagi yang membutuhkan jasa sewa kursi roda untuk daerah Jogja dan sekitarnya, bisa ke sini :
WA :
082160203030 (perwakilan Gejayan)
087838421174 (perwakilan Condong Catur)

Kita pilih yang model ini :

sumber : google

Berapa biayanya? (kursi roda traveling seperti yang kami sewa kemarin) :
200 ribu/ bulan
120 ribu/ 2 minggu
atau 75 ribu/ minggu

Kondisinya bagus, gampang digunakan, ringan dan praktis.

2. HATI YANG IKHLAS & SABAR

Setelah sewa kursi roda beres, apalagi yang perlu disiapkan untuk Umroh dengan anggota keluarga yang memang sangat butuh bantuan kita?

Rasa ikhlas dan sabar pastinya. Tanpa itu semuanya, gak ada artinya kita jauh-jauh kesana, lelah-lelah mendorong, tapi hati gak ikhlas, yang ada cuma capeq!

Dari awal niat umroh bareng Mama dengan kondisi beliau yang tak seprima kita, memang sudah harus dilegowokan, bahwa disana tugas saya dan suami berdua adalah bahu membahu, gak boleh mikirin diri sendiri atau mikir berdua saja.

Harus lebih sabar lagi ketika waktunya sholat, kita harus lebih cepat dari yang biasanya, bahkan di Masjidil Haram untuk jam tertentu kursi roda gak boleh lewat pintu atau eskalator tertentu. Jadi kita sering dapat sholat di pelataran masjid. Yaaah, dilegowokan...

Begitu pula ketika mengantri ke Raudah, karena barisan kursi roda ada sendiri, dimana kita baris dua-dua, sementara antriannya amatlah sangat panjang yang bisa sampai tiga jam berdiri ngantri, dan bisa masuk ke Raudah hanya dikasih waktu satu-menit-saja sama ukhti askarnya. Rasanya mustahil aja sih, kalau gak legowo pasti mending putar balik ke hotel kemudian tidur, ya gak? 😂

Pintu masuk ke Raudah khusus kursi roda

ngantri ke Raudah

Tapi Jangan pernah ragu dengan pertolongan dan kemudahan yang akan Allah turunkan melalui orang-orang sekitar. Ketika saya terpisah dengan suami, dan saya harus mendorong seorang diri dengan kondisi orang penuh sesak, tiba-tiba ada saja orang yang membantunya. Ya, hampir selalu ada orang-orang itu datang membantu kami.

3. SIAPKAN UANG UNTUK "TIPS" PETUGAS BANDARA

Perjalanan Jogja – Jakarta – Dubai – Madinah – Jeddah – Dubai – Jakarta – Jogja kemarin memang cukup memakan waktu di perjalanan. Makin sering kita transit di bandara, maka makin sering pula kita naik turun pesawat dan otomatis mobilitas kursi roda pun juga makin tinggi. Jadi kemarin alurnya kurang lebih gini..

JOGJA – JAKARTA
Begitu sampai di bandara Jogja menuju Jakarta, kursi roda gak perlu di wrap, jadi perlakuannya sama seperti bawa stroller bayi, cukup lapor saja dan diserahkan ke petugas ketika kita boarding / naik ke pesawat. Sekali lagi jangan lupa lapor ke petugas bahwa ada penumpang dengan kondisi sakit dan menggunakan wheelchair. Saya sebut saja penumpang  khusus ya.

Jadi begitu turun dari pesawat, sudah ada petugas yang menunggu dengan kursi roda yang sudah disiapkan oleh bandara, jadi gak pakai kursi roda milik sendiri. Penumpang khusus ini akan didorong oleh petugas didampingi oleh salah satu keluarganya. Sampai di ruang pengambilan bagasi, barulah serah terima kursi roda beserta penumpangnya. Petugas di Soetta gak ada yang minta tips, tapi nurani kita aja sih, kalau mau kasih ya kasih seikhlasnya, kalau gak ya, gak apa-apa.

wheelchair di wrap sama Team Leader Zhafirah



dibantu oleh petugas bandara CGK


JAKARTA – DUBAI
Kursi roda wajib di wrap ketika penerbangan internasional. Di Soetta, bayarnya 50 ribu, jadi ketika wheelchair sudah di wrap, kita akan dipinjami wheelchair punya bandara sampai naik ke pesawat berikutnya.

di bandara Dubai


Tiba di Dubai, bagasi gak ada yang turun, kita transit selama enam jam dengan fasilitas tidur di hotel (kita gak ambil paket city tour, jadi numpang tidur siang aja di Dubai - berasa orang kaya, padahal transit biar dapat tiket yang lebih murah LOL)

Di bandara Dubai yang gedenya segede baliho SAHRUKHAN, yang ndorong kursi roda adalah petugas bandara sekaligus menggunakan kursi roda bandara juga. Kursi roda punya sendiri masih di wrap dibagasi. Kalau bisa sih kasih tips ke petugas yang bantu dorongin ya, karena lumayan jauh jaraknya. Kasih berapa? Seikhlasnya.

(Kalau tanya rata-rata biasanya dan ini katanya antara 10-20 SAR)

Begitupun ketika dari hotel kembali lagi ke bandara mau terbang ke Madinah, ikhlaskan saja untuk kasih tips petugas karena lagi-lagi dorongnya emang jauh banget.



salah satu secuil corner di bandara Dubai


DUBAI – MADINAH
Sebenarnya kemarin ini yang agak bikin senep suami, karena  ngerasa “dipaksa bayar ”.

Astaghfirulloh.... jadi ceritanya turun dari pesawat saya duluan sama Mama, suami di belakang. Begitu ke bagian Imigrasi, tiba-tiba ada orang yang mengambil alih kursi roda dan dia dorong sampai ke antrian Imigrasi. Nah begitu sampe, si petugas ini minta uang 100rb sebagai bayaran dia sudah ndorongin kursi roda meskipun tanpa diminta.

Yah, aku pikir tadi sukarela aja hahaha, mungkin karena gak tega liat saya kecil begini kan, jadi dia mau bantuin gitu lah, eh ujung-ujungnya dia minta duit hehe. Beda sih caranya ketika di bandara Dubai, yang ini agak maksa. Ya pelajaran juga, kalau di bandara liat-liat ya mereka pakai seragam atau tidak, kalau yang resmi, mereka pakai seragam.



SELAMA DI HOTEL DAN DI MADINAH
Karena kursi rodanya juga nyewa bukan milik pribadi, jadi jangan sekali-kali meninggalkan kursi roda di luar kamar atau di luar masjid ya. Toh kursinya juga bisa dilipat, jadi gak apa-apa, bongkar lipat bongkar lipat sampai seratus kali juga gak masalah demi keamanan itu lebih baik.

Ketika di Madinah, kemarin kita memang menghabiskan waktu di Masjid Nabawi, gak ikut city tour, mengingat kondisi Mama yang sangat kesulitan untuk naik turun bus.

Jadi rutinitas kami selama di Madinah kemarin kurang lebih gini :
Habis sahur, ke masjid untuk Sholat Subuh (kalau masih dapat Sholat Tahajud di Masjid), lanjut ke Raudah sekalian Sholat Duha, baru kembali ke hotel dan baru bisa tidur nyenyak sampai menjelang Sholat Dzuhur. Nanti Sholat Dzuhur kadang pulang kadang lanjut Sholat Ashar baru pulang, menjelang buka puasa ke masjid lagi, iftar di Masjid Nabawi yang masyaAllah.... indah banget ya Allah.. suasana menjelang buka puasa yang selalu ku rindukan di Masjid Nabawi.

selesai dari Raudah
Selepas Sholat Maghrib, kembali lagi ke hotel untuk buka puasa makan porsi kuli, kemudian balik lagi ke masjid untuk Sholat Isya sekaligus Sholat Tarawih sampai jam 12 malam. Jam 3 pagi sahur.... and repeat again (seperti yang sudah dijelasin diatas).

Jadi bisa dihitung berapa kali kita bolak balik ke hotel dengan menempuh kursi roda ya. Banyak kali.
Sendirian? Enggak, banyak kok yang pakai kursi roda juga, jadi jangan baper, bukan saya aja yang berjuang, tapi banyak sekali yang perjuangannya lebih berat daripada saya.

MAKKAH DAN MASJIDIL HARAM
Perjalanan ke Makkah dari Madinah menggunakan Bus. Dan setiap kali Mama harus naik turun bus sebenarnya pedih aja rasanya, ikut ngerasain perjuangannya tergopoh-gopoh untuk naik turun bus. Kadang agak setengah digendong biar kuat naiknya. Bikin hatique sungguh terqoyaq-qoyaq..... 😓

dari Masjid menuju hotel

Untuk Rukun Umroh Ihram, Tawaf, Sai dan Tahalul. Alhamdulillah kemarin lancar semuanya.

Dari Miqat di Masjid Bir Ali, sekali lagi kita harus sabar dan ikhlas, ketika rombongan sudah menanti, sementara saya masih makein kaos kaki mama, ketika rombongan sudah memanggil untuk berkumpul, mungkin saya masih sibuk mbenerin posisi duduk mama di kursi roda. Sabar kuncinya.

Alhamdulillah rombongan kami mengerti, team leader kami juga sabar, karena jauh sebelumnya memang saya sudah sampaikan bahwa ada jamaah yang menggunakan kursi roda. Jadi, atas pengertian jamaah lainnya, rangkaian ibadahpun bisa terlaksana dengan baik. Alhamdulillah.

Yang tanya saya kemarin pakai travel apa? Zhafirah ya! Saya sudah dua kali pakai travel ini, dan alhamdulillah recomended. *setelah ini ngarep di endorse 😛*

PT ZHAFIRAH MITRA MADINA
Ruko Kuning 8D, Jl. Ringroad Utara, Condong Catur, Depok Sleman - DIY
http://zhafirahumroh.co.id/ 
IG : zhafirahumrohhajj 
IG : zhafirahumrohjogja 

Untuk Tawaf sendiri pengguna kursi roda tidak boleh dilakukan di lantai dasar (depan Ka'bah persis), jadi bisa dilakukan di lantai 1,2,3 dan 4. Dengan jarak yang lebih jauh pastinya. Karena kemarin kita gak pakai mutawif/ah, jadi saya sama suami gantian yang dorong.

Begitu juga dengan Sai, dilakukan dilantai atas, untuk putaran Sai khusus pengguna kursi roda juga dibedakan, lebih pendek putarannya, dan tidak ada tanjakan bukit Safa dan Marwa seperti kalau kita jalan kaki di lantai dasar.

Sementara untuk tahalul, mohon dapat diperhatikan, karena kita terpisah dengan rombongan, maka yang bisa mencukur rambut adalah jamaah yang sudah melakukan tahalul.

Perhatikan saja orang-orangnya, menggunakan kain ihram atau tidak, minta tolong kepada jamaah lain yang gak kenal juga gak apa-apa. Karena kemarin kita sempat “dimintain uang” sama orang yang menawarkan jasa tahalul. Beh, cukur tiga helai rambut bayar! bukan cukur botak ini ya, tapi tahalul rukun umroh. Astaghfirulloh...baru tau ada jasa tahalul berbayar. Ada juga ya yang cari kesempatan di tempat suci seperti ini. Hiks.

selesai melaksanakan Tawaf

Kalau pengen banget sholat di depan Ka'bah yang di lantai dasar, kita datang ke masjid antara jam 9-10 pagi untuk persiapan Sholat Dzuhur (bagi pengguna kursi roda), sudah deh sampai Ashar atau Maghrib sekalian. Pernah sekali gini, dirapel sampai buka puasa, walhasil kaki mama bengkak karena terlalu lama duduk di kursi, sementara kalau mau tiduran di karpet, bangunnya susah banget. Pasti kesakitan luar biasa. Kalau mau pulang ke hotel, nanti sudah gak bisa sholat di dalam Masjid lagi. Mungkin karena musim Ramadhan, jamaahnya memang sangat padat, jadi memang lebih terasa perjuangannya.

pernah saking capeknya tiduran sambil nunggu sholat, dan bangunnya kesakitan sampai ditolongin jamaah lain.

JEDDAH - DUBAI
Kemarin agak kecewa dengan pelayanan di Bandara Jeddah, karena wheelchair disediakan hanya sampai ruang tunggu pesawat. Padahal dari ruang tunggu menuju ke pesawat harus naik bus lagi. Gak ada garbarata! OHEMJI. Oya biaya wrap wheelchair di Jeddah 100 ribu.

Nah, untuk penumpang khusus/ disabilitas memang ada pelayanan menggunakan mobil lift, apa sih itu namanya yang nantinya bisa naikin penumpang sampai pintu pesawat tanpa lewat tangga. Tapi itu pun setelah suami debat kusir dulu sama petugas bandara. Beneran gak disediakan wheelchair buat sampai ke mobil lift. Dari ruang tunggu menuju mobil lift juga butuh perjuangan lo, karena harus jalan kaki. Jalan kaki bagi orang yang susah jalan, sudah bisa dibayangin kan perjuangannya?

Dan ketika kami sudah diangkut dengan mobil lift itu, petugasnya  minta dibayar dong, bahahhahaaa... tapi maaf banget saya gak kasih. Ini kan sudah tugase panjenengan pak dan jaraknya pun deket banget. Penumpang sebelah dari Malaysia juga gak kasih. Justru kalau yang minta-minta gini kenapa aku jadi gak ikhlas ya, huhuhu. Maafkan.

Tiba di Dubai..
Dubai itu bandaranya gede banget kan ya? *dibahas lagi*
Jadi, kali ini jangan pelit-pelit buat kasih ke petugas yang sudah bantu dorong kursi roda sampai bener-bener diatas pesawat. Kalau petugas di bandara Dubai baik dan lebih sopan menurutku, jadi kita mau ngasih juga gak mikir lama.

DUBAI – INDONESIA
Sama ketika berangkat, kita akan dibantu oleh petugas bandara untuk urusan kursi roda. Dan kursi roda pribadi sudah bisa dipakai sendiri ketika tiba di Bandara Soetta. Untuk menuju Jogja, kursi roda tidak perlu di wrap lagi, jadi perlakuannya sama seperti stroller. Ketika check in, lapor ke petugas bahwa ada penumpang pengguna kursi roda, dan ada wheelchair pribadi.
Mungkin kemarin karena mama sudah kelelahan, jadi ketika mau turun dari pesawat beliau sempet jatuh, dan ketika turun dari pesawat harus digendong karena mau gak mau memang hanya bisa lewat tangga. GAK ADA GARBARATA KAN di bandara Adi Sutjipto. LOL.

Semoga New Yogyakarta International Airport nantinya akan lebih canggih ya!

Mungkin inilah cerita kilas balik pengalaman Umroh kemarin dengan kursi roda. Mungkin saja jika tubuh saya mampu, sebenarnya ingin ku gendong mama ketika tawaf di depan Ka'bah, tapi InsyaALLAH di kesempatan terbaik lainnya, beliau akan bisa berjalan sendiri mengelilingi Ka'bah sambil menyebut namaMu ya Allah... Aamiin.

Cerita lain tentang perjalanan Umroh Ramadhan sebelumnya, bisa di baca disini  :









Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------