Mencari Sekolah Anak (tak) Sedrama Yang Saya Bayangkan

gambar diambil di sini


Dulu, jaman saya masih muda. Masih singgel kinyis-kinyis melankolis dan sama sekali gak mikirin soal anak, sering memperhatikan para ibu-ibu khususnya ibu muda di sekeliling saya kayaknya ribet banget cuma nyariin sekolahan buat anaknya. 

APAAAA? CUMAAAA?? 

Iya katanya drama nyariin sekolah buat anak dramanya gak kelar-kelar. Butuh waktu dan energi tingkat tinggi  karena harus survey sekaligus bandingin sekolah si a, b, c, sampai z yang paling pas yang mana. I know, kegiatan membandingkan inilah yang sering melelahkan.

Seperti ketika membandingkan antara diskon 50% atau mending beli dua gratis satu?

Ah mungkin nanti sayapun bakal demikian, bakal ngalamin era seperti mereka.

Dan sekarangpun masa itu tiba..

Fenomena yang terjadi sekarang malah lebih heboh. Ya gak? Kalo gak heboh bukan mak-emak zaman now namanya.


Soal mencari SD untuk si kakak..

Ketika si kakak masih di Playgroup, saya sudah membayangkan nantinya anak ini akan melanjutkan sekolah dimana. Mungkin persiapan inilah yang menjadi salah satu kunci untuk menghindari drama ibu-ibu pencari sekolah masa kini. Perencanaan jauh-jauh hari. Ketika saya sudah ada bayangan si kakak mau SD dimana, saya harus mencari TK yang setidaknya sejalan visi misi dengan SD nya kelak atau setidaknya jalur ke SD nya lebih mudah. Ribet di awal sih.

Akhirnyapun ketika si kakak naik ke TK saya pindahkan ke TK yang memang jalurnya akan kearah SD yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Jadi, kemarin pun ketika ada assesment penerimaan siswa baru untuk SD, saya gak ribet lagi untuk survey sekolahan lain lagi. Mantep aja udah disitu gitu. Kecuali anaknya gak diterima, baru nyari sekolahan lain. Tapi kemarin pede banget pasti ketrima hahahaa. Tapi sebenarnya pun sudah punya Plan B, jikalau gak lolos, sudah cap cip cup mau sekolah di yang satunya itu. Aish ribet yey.

Pun dengan adiknya ini, kayaknya saya gak seribet gitu survey sekolahan yang seperti apa buat dia. Mikirnya simple aja, melihat pengalaman si kakak sekolah disitu sepertinya semuanya berjalan mulus, jadi saya langsung saja menetapkan pilihan sekolah yang sama buat adiknya. Pengalaman adalah guru paling berharga, gitu ya? hehe

Jadi sebenarnya hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan saya dan suami dalam mencari sekolah buat anak tanpa harus ribet, drama, lebai dan mengorbankan banyak waktu dan energi? Toh, sebenarnya anak adalah tanggung jawab kita sebagai orangtuanya, bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Sekolah adalah partner orangtua untuk membantu dalam mendidik anak-anak ketika kita tidak berada di dekat mereka. Dan selalu salut buat para orangtua yang mampu meng-homeschooling-kan anaknya! Warbyasakk!

Trus mau nyari sekolah yang kayak apa sih? Ini adalah pendapat pribadi, boleh beda kok, disanggah juga boleh 😋.. sekaligus pengalaman pribadi tahun lalu ketika nyari sekolahan buat kakak, sekarang anaknya sudah semester 2, dan ternyata gak nyesel dengan sekolah pilihannya & pilihan kita.

  1. Yang pertama adalah jarak. Karena saya statusnya single parent temporary alias jauhan sama suami, jadi mau gak mau bisa gak bisa saya yang menghandle sendiri semua jalur transportasi anak. Apakah akan saya antar jemput sendiri, atau menggunakan jasa antar jemput dari sekolahan atau menggunakan jasa antar jemput pribadi. Sejauh ini, yang saya utamakan adalah saya sendiri yang akan mengantar dan menjemput sekolah anak-anak. Jadi sangat diutamakan jarak antara rumah – sekolah – dan kantor masih masuk akal. Terlebih nanti bakal ada dua anak yang saya antar, jadi faktor utama mencari sekolahan buat anak adalah jarak.
  2. Basic kurikulum & metode pendidikan yang diajarkan. Saya gak paham sebenarnya jenis kurikulum apa saja yang ada di dunia pendidikan di negara ini *ohemji...sungguh saya bukan emak pembelajar..hikss*. Pun dengan banyaknya metode pendidikan yang digunakan. Intinya, kami sangat mengutamakan pendidikan agama dalam sekolah anak-anak. Ya, itu yang utama. Entah menggunakan metode apa dan kurikulum apa, yang paling utama adalah pendidikan agama sebagai pondasi dasar anak-anak dalam kehidupan sehari-harinya saat ini dan yang akan datang. Ya entahlah, bagi kami pendidikan agama merupakan hal yang sangat prinsip dalam membentuk dan membangun karakter anak-anak. Mungkin kami nampak kolot, tapi bagi kami itu sudah harga mati, prinsip agama akan dibawa gak hanya di dunia tapi sampai ke akhirat kelak, kan? Berat ya.. emang! 
  3. Anak senang dengan sekolahnya. Ketika kita menawarkan ke anak untuk sekolah di situ, coba ajak si anak untuk melihat-lihat kondisi sekolahnya. Kalau anak cocok, maka lanjut. 
  4. Biaya. Nah ini, kunci dari segala kunci hahahaa. Tapi saya dan suami merasa sebagai orangtua bertanggung jawab besar terhadap pendidikan anak-anak. Walaupun benar, sebenarnya bukan si anak kok yang minta disekolahin di sekolah a, b atau c dengan segala fasilitas dan biaya yang begitu tinggi. Kembali lagi kepada orangtuanya. Karena kami merasa kami bekerja untuk mereka, dan ternyata kami juga menyadari bahwa sebagai orangtua masih bergantung dengan orang lain dalam hal ini adalah sekolah untuk membantu mendidik anak-anak. Jadi faktor biaya akan kami usahakan semaksimal mungkin, tapi tetep logis antara penghasilan dan pengeluaran harus seimbang, jangan sampai ngutang sana sini demi gengsi nyekolahin di sekolahan favorit  😭
  5. Perencanaan dan persiapan jauh-jauh hari. Apapun menurut saya hasilnya akan lebih bagus jika dipersiapkan jauh-jauh hari. Pun dengan memilih sekolah untuk anak-anak. Setidaknya kita sudah ada bayangan mau dimana mereka nantinya akan sekolah. Dari jenjang Playgroup, TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Seperti cerita saya diatas, ribet di awal sih tapi ternyata sangat membantu di kemudian hari

Mungkin 5 faktor penting diatas yang menjadi pertimbangan kami dalam memilih sekolah anak. Selebihnya, anak akan bisa membaca, menulis, menghitung, menghafal atau bisa ini dan itu bagi kami itu adalah bonus.

Kami berusaha mengembalikan anak-anak ke fitrahnya. Sesuai usianya. Berjalan seadanya. Terkadang kita sering berekspektasi terlalu tinggi terhadap anak, khawatir tidak sesuai maka kita pun yang akan kecewa. Terkadang kita terlalu banyak pertimbangan, mencari yang paling sempurna, yang paling favorit dan yang terrrrrbaiklah, tapi percaya.. gak ada anak, orangtua, sekolah, guru yang sempurna atau dipenuhi kebaikan semua. Pasti semua ada nilai plus dan minusnya.

Ketika kita sudah membuat skala prioritas dalam memilih sekolah untuk anak, setidaknya itu dapat meminimalisir drama-drama dan keribetan kita sebagai "orangtua pencari sekolah yang terbaik untuk anak".

Kembali lagi ke masing-masing orangtua... semua pasti punya skala prioritas. Yang berat sebenarnya kewajiban kita sebagai orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak-anak. Mau homeschooling, mau sekolah alam, mau sekolah negeri, sekolah swasta, pesantren atau apapun itu. Tanggung jawab sesungguhnya adalah di pundak kita sebagai orangtuanya, bukan oranglain.

Selamat mencari sekolahan :)

Be First to Post Comment !
Post a Comment

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------