Image Slider

Cara Membuat Paspor Untuk Anak




Sehubungan kami ada rencana liburan dalam waktu dekat, akhirnya si dua anak kecil ini terpaksa dibikinin paspor. Bagi yang mau bikin paspor buat anaknya, ini cerita saya kemarin.


[Pembuatan Paspor Edisi September 2016]

Sebenarnya ada dua cara pembuatan paspor saat ini, yaitu dengan cara datang langsung/ walk in atau dengan cara online. Kebetulan kemarin saya datang langsung, karena untuk online terkadang sering menemukan kendala pada saat menentukan waktu kedatangan, memasukkan captcha dan trouble system lainnya (mungkin tergantung mood server aplikasinya ). Tapi saya belum pernah nyoba juga sih yang online itu, cuma kata tetangga yang kerjanya di Imigrasi katanya sih suka begitu :D. Tapi sudah banyak yang me-review cara bikin paspor online kok. Atau kalau ada yang mau share dimari silahkan ya.

Berikut langkah-langkah dan apa saja yang harus dipersiapkan :
  • Datang sepagi mungkin, karena semakin siang semakin rame bahkan gak kebagian nomor antrian. Biasanya jam 5 subuh aja sudah pada ambil antrian, jadi kalau bisa sepagi mungkin sebelum kanim buka
  • Berpakainlah yang rapi dan sopan, memakai kemeja atau kaos bekerah dan bersepatu. Untuk anak-anak kalau bisa juga ya, biar rapi. Kan jadi ganteng dan cantik fotonya. Sudah ada pengumumannya juga di kanim soal ketentuan berpakaian ini
  • Bawa cemilan kesukaan anak
  • Sebelum ambil nomor antrian, pastikan semua sudah disiapkan berkas-berkas persyaratan baik asli maupun yang sudah difotocopy sbb :
  1. Paspor Orangtua
  2. Kartu Keluarga 
  3. Akta Kelahiran Anak
  4. Akta Nikah Orangtua
  5. KTP Orangtua (gak usah digunting/diperkecil, biarkan ukuran A4 saja)
  6. Surat pernyataan, formulirnya sudah disediakan disana, kita tinggal bawa meterai Rp 6.000 
  7. Karena saya bikin paspor untuk 2 anak, jadi saya copy semua 2 lembar dan meterai juga 2 lembar
  • Mengisi formulir dengan data-data yang benar
  • Menunggu panggilan untuk foto dan wawancara setelah pengecekan berkas selesai. Jadi kemarin si kakak karena umurnya sudah lebih dari lima tahun, sehingga harus cap sidik jari dan rupanya kemarin ini yang bikin lama, karena susah banget ke detect nya. Gak tau kenapa. Sementara si adek karena baru berumur 20 bulan jadi cukup duduk manis lalu difoto sama petugasnya. Syukurnya anteng nih ini bocah-bocah, jadi fotonya cukup sekali cekrek langsung jadi
  • Setelah diambil foto dan sidik jari, petugas mencocokkan data dengan data sesuai formulir yang sudah diisi tadi, cek lagi dengan teliti ya, jangan sampai ada yang keliru. Biasanya, Nama, Tanggal Lahir, dan Nama Orangtua saja yang perlu dipenthelengi.
  • Yang diwawancarai orangtuanya saja, biasanya ditanya untuk keperluan apa dan kemana
  • Jika proses itu sudah selesai, maka petugas akan memberikan bukti penerimaan dan bukti pembayaran kepada pemohon
  • Sekarang untuk pembayaran pembuatan paspor sudah bisa dilakukan di banyak Bank, kalau dulu hanya bisa di BNI, tapi sekarang di bank-bank besar katanya sudah bisa. Biayanya Rp 355.000
  • Setelah 3 hari kerja dari waktu pembayaran, pemohon kembali ke Kantor Imigrasi untuk mengambil paspor yang sudah jadi dengan menyerahkan bukti pembayaran dari bank. Inget ya, datangnya jangan kesiangan, biar antrinya gak terlalu lama
Demikian langkah-langkah pembuatan paspor untuk anak, singkat ya? Yang lama antrinya hehe. Sebenarnya gak beda jauh dengan pembuatan paspor untuk dewasa. Tapi memang lebih rempong karena bawa anak-anak. Apalagi kemarin saya seorang diri, dan bawa DUA ANAK!

Di Kantor Imigrasi Yogyakarta yang kantornya sebelah Bandara Adi Sutjipto, sudah ada ruang laktasinya lo.... playground juga ada. Walaupun tetap umpel-umpelan karena selalu penuh, tapi sudah mendingan kok daripada jaman saya bikin paspor dulu.

Ini edisi pembuatan paspor bulan September 2016 ya, karena biasanya ada perubahan ketentuan seiring berjalannya waktu. Oya, terkadang setiap kanim juga ada kebijakan-kebijakan lain yang bisa jadi berbeda. Jadi, ini hanya referensi aja yaaa...

Setelah paspor anak-anak ini jadi, langsung deh dibuatin passport case sama emaknya! Biar keceeeeh

Yaudah, jadi mari kita plesir kemana..........??







Belanja di Pasar Tradisional



Apakah kalian masih suka belanja di pasar tradisional? Kapan terakhir beli sayur nawar? Hehe

Kalau saya paling tidak, sebulan satu atau dua kali. Eh tapi kalau lagi rajin bisa tiap weekend ke pasar. Mau ngapain ke pasar? Ya pasti karena mau beli kebutuhan rumah tangga, tapi kadang juga karena cuma pengen beli jajanan aja.

Dan ini list belanjaan saya kalau ke pasar tradisional :
  • Sayuran
  • Buah-buahan
  • Telur
  • Bumbu dapur
  • Jajanan pasar/ Kletikan
  • Gerabah/ peralatan masak & rumah tangga
  •  
Sayuran
Harganya memang lebih murah daripada di supermarket. Dan semuanya adalah produk lokal. Ada juga yang langsung dari petaninya. Kalau mau cari zuchini ya ke SPM aja, di pasar adanya terong ijo apa ungu. Gak ada daun mint, adanya daun kenikir. Gak ada butternut squash adanya labu parang. Jadi kalau mau belanja sayuran yang biasa-biasa aja macam bayam, kangkung, buncis, kacang panjang, brokoli, wortel dkk mending belanja di pasar kecuali mau nyari yang organik-organikan silahkan ke supermarket terdekat.

Kalau di Pasar Kotagede DIY yang biasa saya sambangi, sebelum masuk ke dalam pasar sudah banyak penjual sayur yang membuka lapaknya di depan pintu masuk. Saya lebih suka beli disitu karena lebih leluasa dan sirkulasi udara lebih lancar, beda kalau di dalam, cukup pengap menurut saya kalau lama milih-milih sayurnya. Makanya untuk urusan beli sayur biasanya terakhir sendiri setelah belanja yang lain, males banget bawa kantong belanja berat-berat masuk ke dalam pasar. Yakan?
Buah-Buahan
Lagi-lagi, jika ingin membeli buah produk lokal, dipasar hampir semua ada. Dari pepaya, pisang, nanas, semangka, jeruk, salak, buah naga, anggur biasanya ada. Dan harganya menurut saya murah banget ....banget. 




Ini anggur sekilo cuma tiga puluh lima rebu.... Jeruk sekilo duabelas rebu... Dan buah naga sekilo cuma limabelas rebu.. Murah banget ya.

Tapi kalau mau cari kiwi jangan disini ya, yang mirip kiwi semacam sawo kalo itu kadang-kadang ada sih. Hehe

Telur
Kenapa saya lebih seneng beli telur di pasar? Karena saya seneng bikin roti, jadi sukanya telur-telur yang saya beli suhunya gak kena ac apalagi sudah disimpan di kulkas. Selain beli telur negeri biasa saya juga beli telur asin. Saya suka banget. Dari jaman STM jadi anak kos sukanya nyimpen telor asin buat perbekalan tak terduga. Duit abislah, males keluar cari makanlah, yaudah telor asin ini penyelamat pertama. HAHAHHA


Pun sampai sekarang ya, kalau lagi gak napsu makan biasanya cuma makan nasi anget sama telor asin, tok. Jadi stock telor asin di rumah hampir selalu ada.

Bahkan suami saya, kalau pulang ke Jogja dan mau balik kerja ke Makassar minta dibawain telor asin juga. Hahaa dasar anak kos. Eh gak ngekos juga sih, tapi disana gak ada yang masakin juga jadi sama aja kayak anak kos ya.

Hidup telor asin! Hidup irit demi bisa naik haji! Eeeaaaa

Suami istri pecinta telor asin, tapi anak-anak gak ada yang doyan. Hamdalah... semua masuk ke perut bapak ibunya.


Bumbu Dapur
Lima ribu sudah dapat jahe, lengkuas, kunyit, kencur, daun salam dan daun serai. Belum lagi merica, ketumbar dan kemiri. Sudah sih kalau soal perbumbuan saya lebih suka beli di pasar. Paling banter saya beli bumbu dapur macam cinnamons, halah kayu manis atau oregano saja di supermarket. Selebihnya di pasar tradisional.

Nah tuh ada pete jengkol segala

Jajanan Pasar/ Kletikan

Aneka kue-kue

Buntil, apakah kalian tau buntil itu apa? Yang jelas enakk


Klethikan buat isi toples di rumah


Karena anak-anak pada suka ngemil, jadi toples di rumah nyaris gak pernah kosong. Nah isi ulangnya ya disini, dari roti-rotian jadul sampai kekinian, rempeyek kacang sampai rempeyek bayam, semuanya ada.

Gerabah/ Peralatan Masak dan Rumah Tangga



Gak tiap ke pasar juga sih beli gerabahnya. Biasanya saya blusukan nyari-nyari barang lucu, unik dan murah yang bisa dipakai untuk sesuatu di rumah. Contohnya keranjang ini, harganya enggak sampai Rp 10.000,- tapi lucu aja, dan saya langsung beli setengah lusin, hehe.


Sampai rumah dijadiin baju pot-pot tanaman





Atau talenan, yang harganya lima ribuan aja, bahkan ada yang lima ribu dapat dua! Bisa buat walldecor ala-ala yang lagi ngehits sekarang.. Ini contoh aja kalau yang sudah jadi. Dari talenan tok.






Nah, itulah list belanjaan yang biasanya saya prioritaskan beli di pasar tradisional.

Sedangkan list belanjaan yang biasanya saya prioritaskan beli di swalayan, supermarket/ warung adalah :

  • Kebutuhan toiletries (sabun, odol, shampo, cairan pembersih lantai dan kamar mandi, tisu dll)
  • Kebutuhan laundry (detergent, softener, pelicin setrika)
  • Kebutuhan baking dan masak (tepung terigu, margarin, minyak, gula dll karena sering ada diskonan kan ya)
  • Ikan/ daging. Justru ini males banget kalau belinya di pasar, karena daerah ikan-ikan dan daging ini yang paling saya hindari kalau ke pasar, gak nahan sama aromanya

Mungkin itu alasan kenapa saya masih sering menyempatkan diri belanja ke pasar tradisional. Meskipun sebenarnya tukang sayur juga tiap hari lewat depan rumah.

Tapi rasanya kok ikut bahagia berinteraksi langsung dengan para pedagang yang gelosoran di tanah/ lantai, nyimpen uangnya juga bukan di laci kasir, melainkan di balik behanya eh, dibalik tampah jualannya, atau di dalam tas bapuk yang mungkin sudah bertahun-tahun dipakainya.

Dan semua yang ada disini ala kadarnya banget, jarang liat ada yang pakai perhiasan berlebihan di pasar, kecuali penjual toko mas atau penjual daging/ toko kelontong kalik ya. Mau dasteran pun kemari gak ada yang komentar, belom mandipun gak ada yang peduli. Hihi.

Keringet mereka ini mari kita hargai. Ke-istiqomahan dan semangat mereka dalam berjuang mencari rezeki untuk keluarganya yuk mari dicontoh.

Dan satu hal lagi, kalau ke pasar saya ikhlas banget buat bayar tukang parkir. Karena untuk jadi tukang parkir di pasar, khususnya di Pasar Kotagede ini butuh effort yang tinggi. Geser-geserin kendaraan gak ada berhentinya, diklakson sana-sini karena parkirannya bikin macet, tapi abang parkirnya kayaknya sabar banget. Jadi, saya ikhlas banget bayar parkiran di pasar... gak kayak yang lain yang sukanya asal bhay aja habis dibayar. Bhayy.....


Semoga pasar tradisional terus berjaya yaa.. jangan sampai kalah sama indomakpret dan alfamakpret yang sudah mulai memonopolih (pake h) daerah pedesaan. Hiks

Review Eyeliner Wardah EyeExpert Optimum Hi -Black Liner

[REVIEW POST]

Saya yang ngakunya gak pernah dandan, tapi  TETEP gak bisa lepas dari yang namanya eyeliner. Gak bisa banget.

Kenapa?
Bagi saya eyeliner ini sangat menolong buat mata ngantuk seperti mata saya biar kelihatan lebih melek, seger, ngejreng dan (((menonjol))).

Beberapa tahun terakhir sejak saya rajin pakai eyeliner, saya belum pernah menemukan eyeliner sebagus ini. Gonta-ganti berkali-kali, dari yang jenis gel, liquid, pencil, dan terakhir jenis spidol atau pen liner seperti Optimum Hi Black Liner punya Wardah yang kece badai.

EyeExpert Optimum Hi Black Liner, bentuknya yang mana sih?
Namanya panjang banget ya, sebut saja Hi Black Eyeliner. Jadi bentuknya itu lo yang mirip spidol, slim, pas banget dipegang-pegang.

Dengan sentuhan warna silver memang terkesan bukan eyeliner murahan. Percayalah, bahwa eyeliner ini bisa dibeli di Sociolla dengan harga sangat terjangkau, apalagi kalau pakai voucherku. Lumayan banget dapat potogan harga sampai Rp 50.000. Cus langsung aja di klik disini buat dapetin eyeliner yang bikin mata cetar namun tak bikin kantong bolong. 
Evpressif . Consistent . Long-wear


Slim dan nampak elegan

Sudah ada label halal MUI

Untuk aplikatornya sendiri mirip banget dengan spidol. Tapi gak kaku, jadi dipakai gak bikin mata sakit. Lembut banget kok, suer gak kayak merk sebelah yang pernah saya coba, aseli kaku dan gak bisa langsung sekali oles. Kalau yang ini lembut dan sekali oles saja sudah cukup.

Aplikatornya lancip tapi gak kaku

Teksturnya? 
Sekali oles bisa langsung jadi. Tebel, pekat tapi gak gampang mbeleber. Biasanya, eyeliner yang jatuhnya tebel, pasti akan susah juga bersihinnya. Kalau eyeliner ini enggak dong, bahkan gak perlu pakai make up remover untuk menghapusnya. Simple banget. Sesimple belanja di Sociolla. Eeaaaa

Ini juga yang bikin saya jatuh cinta berkali-kali. Suka pakai tapi gak suka bersihinnya. Itu sih saya banget.

Sangat kebantu sama produk ini, mata tetep kliatan NGEJRENG tapi juga gak bikin mata horor, belepotan karena suka kemana-mana kalau kena air. Macam zombi yang gak tidur tujuh hari. Kan serem yang liat.


Cara pakainya gimana?
Cukup bersihkan mata sebelum diaplikasikan, lalu putar saja kemasannya dari tutupnya. Mirip pakai spidol. Kemudian oleskan ke area garis mata, sekali oles langsung jadi.

Hasilnya sudah tebel dan pekat jadi gak perlu berkali-kali oles untuk membuat garis mata nampak jelas, tegas dan menonjol. Sekali oles saja.

Begitu pun dengan bersihinnya, seperti yang sudah saya singgung di atas, cukup pakai susu pembersih atau facial wash, nanti bakal ilang sendiri kok. Gak mbredidil ninggalin item-item di kelopak mata.


Performancenya ?
Jadi setelah berbulan-bulan atau mungkin sekitar satu tahun saya pakai eyeliner ini, saya sih gak mau pindah ke lain hati.

Ini penampakan di saya, no filter  ya!





Total saya sudah beli sebanyak 3 kali dengan eyeliner yang sama, cukup awet kok. Biasanya ganti karena selain warnanya sudah gak begitu pekat, juga pernah karena buat mainan si adek, jadi sukses membuat saya langsung ngibrit ke counter Wardah untuk beli eyeliner ini. 

Kesimpulannya...
Saya bakal beli lagi jika sudah habis. Karena :
  • Wearable, gampang pakainya
  • Busek-able, gampang bersihinnya
  • Kantongable, murah harganya
  • Tahan lama, jarang juga touch up eyeliner jika habis wudhu, karena memang masih melekat sempurna. Biasanya sampai sore pulang kerja, saya baru bersihin area mata yang kena eyeliner ini
  • Gak bikin iritasi mata, gak bikin gatel dan pengen digaruk-garuk matanya meskipun dipakainya seharian
  • Sudah terdaftar di BPOM dan LPPOM MUI. Logo resmi Halal MUI ada di setiap kemasan, kalau untuk eyeliner ini ada di bagian tutupnya 
  • Walaupun teksturnya pekat dan waterproof, tapi pada saat wudhu air tetap bisa menyerap ke dalam pori-pori kulit. Ini karena ada kandungan smudge-proof  yang membuat air tetap menyerap ke kulit dan tahan lama. Ini penting, karena buat apa cantik kalau wudhu jadi gak sah.

Trus, belinya dimana?
Counter Wardah sudah sangat banyak di supermarket kelas kecamatan sampai kelas ibukota, jadi gampang banget nyarinya.

Seandainya gak sempet beli karena harus pergi ke counter, atau yang dicari barangnya pas gak ada, bisa banget lo beli online di Sociolla. Dan jangan lupa pakai voucher ku ya, sisa masukkan kode SBNLA94M. Selamat belanja dan ber-eyeliner ria !




*pict source :
http://www.sociolla.com/makeup/3650-optimum-hi-black-liner.html

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------