Image Slider

Mudahnya Mengurus E-KTP Pindahan




Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, bahwa untuk mengurus E-KTP itu rumit, njelimet, dan memakan waktu yang lama. Buktinya, saya baru saja mengurus E-KTP dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tapi memang E-KTP yang saya urus adalah E-KTP Pindahan yaa, jadi mungkin itu yang bikin cepet :).

Jadi, sebelum saya pindah kependudukan menjadi warga Jogja, saya dulu sudah pernah melakukan rekam E-KTP di tempat tinggal saya yang lama, sekitar tiga tahun yang lalu. Nah, sebelum E-KTP jadi, ternyata saya juga mengurus pindah kependudukan ke Jogja. Lalu, apa kabar E-KTP saya?

Yang saya heran sebenarnya, kenapa pada saat saya mengurus KTP di Jogja, kok tidak sekalian ya dibuatkan E-KTPnya, saya hanya dikasih KTP model lama. Ya, itu tahun 2013. Dan sayapun tidak begitu paham sehingga saya santai saja gak minta dicetakan sekalian E-KTPnya.

Tahun 2016 ini, ada wacana bahwa pembuatan E-KTP ada batas waktunya, yaitu sebelum tanggal 30 September. Jika tidak, maka akan kesulitan mengurus surat-surat administrasi dalam segala hal. Horor kan? Yah daripada gak tenang, saya pun langsung semangat untuk mengurus E-KTP saya yang statusnya entah dimana.

Berikut langkah-langkah mengurus E-KTP Pindahan :

  1. Langsung datang ke Kantor Kecamatan. Gak perlu pengantar RT/RW/Kelurahan. Catatan : Jika tidak ada perubahan data bisa langsung ke Kantor Kecamatan, jika ada perubahan data dalam Kartu Keluarga, maka diurus lagi dari awal
  2. Membawa Foto Copy Kartu Keluarga. Cukup satu lembar saja, untuk mencocokan data di Kecamatan dan untuk pengisian formulir
  3. Mengisi Formulir yang sudah disediakan oleh petugas pelayanan. Pengisian data acuannya cukup data dalam Kartu Keluarga
  4. Petugas Pelayanan akan mencocokan data formulir yang sudah kita isi dan data Kartu Keluarga dengan data yang ada di Kecamatan
  5. Jika data sudah sesuai, maka kita akan diminta kembali dalam waktu tertentu untuk pengambilan E-KTP 
  6. Selesai 

Semudah itu yaaa..

Nah, Tips biar pengurusannya cepat :
  • Datang sepagi mungkin, untuk menghindari antrian
  • Siapkan fotocopy Kartu Keluarga dari rumah
  • Membawa pena atau bolpoint sendiri, meskipun sudah disediakan tapi aman nya bawa sendiri
  • Mintalah nomor telpon yang bisa dihubungi untuk konfirmasi barangkali E-KTP sudah bisa diambil lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan
  • Catat dan ingat baik-baik kapan waktu yang sudah ditentukan untuk pengambilan E-KTP
  • Simpan bukti pengambilan E-KTP jika perlu difoto barangkali tercecer atau lupa
Berkaitan dengan batas pembuatan E-KTP sendiri adalah 30 September 2016, lalu bagaimana dengan proses pencetakan E-KTP yang butuh waktu satu bulan? Oya setiap kecamatan mungkin berbeda-beda ya waktu yang dibutuhkan untuk proses pencetakan E-KTP nya, kebetulan informasi dari petugasnya, E-KTP saya bisa jadi dalam waktu kurang lebih satu bulan. Cukup lama ya. Tapi tidak ada masalah kok cetak E-KTP nya melampaui tanggal 30 September 2016, yang terpenting adalah proses rekam datanya tidak melebihi tanggal tersebut.

Ayo, yang belum mengurus E-KTP, segera saja. Masih ada waktu sampai 30 September 2016.
Prinsipnya, bagi yang sudah pernah melakukan rekam E-KTP, maka tidak perlu rekam lagi, cukup sekali saja meskipun pindah domisili. Nah bagi yang mau mengurus E-KTP dari awal bisa lihat gambar ini. Ayo jangan ditunda lagi dan luangkan waktu untuk mengurusnya, daripada repot nantinya.



Terimakasih atas pelayanan yang ramah, cepat, dan tanggap di Kantor Kecamatan Kotagede Yogyakarta.

Bagian Pelayanan Kecamatan Kotagede


*Source Pict :
http://disdukcapil.langkatkab.go.id/berita/artikel/20-fungsi-e-ktp.html
http://dinpendukcapil.purbalinggakab.go.id/2012/06/ktp-elektronik-e-ktp/

Perawatan Skin Care di Erha Clinic

Sudah lama banget saya gak pernah berurusan dengan dokter kulit. Eh terakhir waktu kecelakaan kemarin sih itupun karena ada luka jahitan di pelipis sehingga munculah keloid. *sigh*

Nah, kali ini saya datang untuk sharing pengalaman saya melakukan perawatan kulit di Erha Clinic Jogja

Mau ngapain ke Erha? Biar kinclong lah muka saya, hahaa. Sebenarnya enggak juga, karena sejak saya pulang Umroh kemarin kulit saya jadi agak bruntusan. Karena waktu disana saya pakainya pelembab dengan SPF sangat tinggi, dan entahlah itu efeknnya apa bukan.

Sebenarnya kalau dibiarin aja (((mungkin))) juga bakalan balik lagi seperti semula *pede*, tapi karena tangan saya yang suka kegatelan, suka banget ngelopekin bruntusan-bruntusan itu jadilah luka dimana-mana dan meninggalkan bekas.

Flek-flek hitam bekas luka ini nih yang amat sangat nyebelin, dan rasanya butuh sentuhan perawatan lebih untuk mengembalikan kulit saya seperti semula.

Sempet browsing sana-sini, nanya temen sana-sini, pada cocoknya pake apa. Tapi kemarin saya mantep banget buat ke Erha. Entahlah

Hari Jumat, pulang kerja. Adalah waktu yang pas buat "me time". Datanglah saya ke Erha di daerah Kota Baru Yogyakarta. Bersama Octa, yang sebenarnya dia sudah pakai Erha sejak bertahun-tahun lamanya, liat muka octa jadi makin mantep untuk ikut perawatan di Erha. *semoga octa gak baca geer banget entar dia hahaha*

Begitu sampai di lokasi, ini kok keren banget yak tempatnya. Hahaha norak lah saya dibuatnya. Mirip hotel, nyaman banget.

bagian depan. pict. source : www.erha.co.id
 Kemudian, ketika masuk ke ruangan langsung disambut ramah oleh security..

Ngisi formulir pendaftaran

Antrian menuju registrasi, kasir, dan pengambilan resep

Gak lama menunggu, saya dipanggil oleh customer service nya untuk melakukan registrasi...

Kartu Member

Kemarin saya memilih dr. Radijanti Anggraheni SPKK, gak mikir lama sih mau diperiksa dokter siapa, yang penting antrinya gak lama.

Antrian ke ruang periksa

Begitu masuk ke ruang periksa, yasudah saya suruh bercerita tentang kondisi kulit saya. Kulit saya ini memang cenderung kering, dan ada flek-flek membandel itu tadi. Dokter melakukan pemeriksaan pake lampu yang disorot ke muka saya, hanya sebentar saja, terus njelasin kalau saya harus pakai produk ini, ini dan ini.

Oya sebelumnya, saya juga diminta untuk foto sambil pegang tulisan nama, mungkin tujuannya untuk before dan after nya  ya.

Gak lama, saya menuju ke bagian kasir dan apotek untuk pengambilan skincare yang sudah diresepin sama dokternya.

hasil pemeriksaan
Kemudian dijelasin oleh apotekernya tentang cara pemakaian yang menurut saya kok agak njelimet. Tapi semoga saja hasilnya juga bagus ya, nanti saya review lagi satu bulan kedepan hasil muka saya seperti apa. Karena bulan depan juga diminta untuk cek lagi sama dokternya.

Untuk biayanya, kasus seperti kulit  saya kemarin habis sekitar Rp 583.000 sudah termasuk biaya konsultasi dokter.

struk pembayaran
Dapat enam barang. Semacam gel pembersih, dipakai seperti susu pembersih, kemudian facial wash, cream siang dua buah, dan cream malam dua buah.

paket skincare

Tunggu ya progress pemakaian selama sebulan kedepan :)

Jujur ini kali pertama saya pakai skincare dokter, whis me luck! Ahik.


Alamat Erha Clinic Yogyakarta :
Jl. Supadi No. 18 Kotabaru, Gondokusuman
Yogyakarta
Telp. 0274-558181


4 Alasan Mengapa Lidah Buaya Wajib Ada di Rumah

Menimbang, mengingat, memperhatikan, sejuta manfaat akan tanaman bernama Lidah Buaya, atau nama latinnya Aloe Vera, akhirnya saya memutuskan untuk menanam lidah buaya di rumah.

Setidaknya kurang lebih ada 4 hal yang bisa menjadi alasan kenapa saya butuh tanaman ini di rumah :

1. Sebagai Tanaman Hias
Lidah buaya selain banyak manfaatnya juga cantik dilihat. Gak beda jauh lah sama saya. Huahahaa. Gak beda jauh sama cantiknya kulit buaya yang sudah bermerk KREMES itu HERMES KALIK.





Tanaman lidah buaya, selain cantik dilihat juga ternyata sangat mudah perawatannya. Ini dulu saya bawa bibitnya dari rumah simbah di Banjarnegara, asal ditanam saja di pot, yang akhirnya saya pindah ke taman karena cepat besar dan sekarang sudah beranak pinak. Iya mereka gak kenal KB, jadi senggol langsung jadi. EH.. EH TABOK :D !!

Gak perlu sering disiram, karena sifatnya yang gak begitu suka air, cukup kena matahari, dan bisa ditaruh di dalam rumah atau di luar rumah, asal sering kena matahari ya.

Financial Basic Literacy, Emak Investasi.

Saya (dan suami) basicnya bukan orang finance. Kami dulunya jebolan anak STM. Yang lebih familier dengan urusan pertukangan daripada urusan duit. Suami saya teknik elektro, sementara saya teknik informatika.

Jadi kalau ditanya soal financial planing dan apalah apalah soal keuangan gak ngerti sama sekali. Makanya sampai sekarang kamipun gak punya asuransi, kartu kredit, main saham, deposito atau investasi apapun di perbankan. (kok kayaknya sudah pernah nulis beginian ya?)

Baca juga : Habiskan Saja Gajimu

Jadi hidup kami lempeng sekali.

Padahal gak ada yang tau, ujian keuangan atau krisis moneter bisa terjadi kapan saja. Perubahan dari yang tadinya sangat nyaman bisa jadi menjadi tidak nyaman sama sekali.

Saya dan suami sebagai pegawai hanya mengandalkan gaji pegawai saja. Walaupun untuk saat ini kami tidak memiliki tanggungan kreditan/bayar cicilan tiap bulan, tapi perumpaan sedia payung sebelum hujan mungkin menjadi tepat.

Kami ini pegawai, yang digaji setiap bulan. Mungkin saja untuk saat ini masih santai-santai manja karena masih ngerasa cukup lah untuk biayain anak satu masuk SD (baru SD ya!, selanjutnya dipikir belakangan). Eh, dan tahun depan si adek juga mau masuk playgroup. Kok mendadak gak jadi nyante nih mengingat taun depan masukin sekolah dua anak sekaligus.

Kemudian jadi mikir....

Seandainya kami punya uang lebih, sebaiknya untuk saat ini kita alokasikan untuk investasi saja ya. Investasi di mata saya dan suami gak harus berurusan dengan Bank sih sebenarnya. Bisa dengan membeli tanah, sawah, atau emas. Tapi itu kalo duitnya lebih-lebih.

Lalu.... gak tau lima tahun atau sepuluh tahun kedepan, apakah nasib perusahaan kami bekerja sekarang masih bisa diandalkan untuk menghidupi keluarga kami, who knows?


Pict from google.com

Makanya sekarang, kalau memang mau merdeka secara financial harus kerja keras. Disamping kerja keras, juga harus pinter ngatur duit keluarga. 

Jadi, saya punya temen di KEB Jogja, namanya Ardiba. Mak Diba ini sepertinya juga jago soal financial planing atau tepatnya urusan investasi. Beberapa artikel soal investasi sudah ada di blognya www.investasiemak.com.

Coba gih dibuka emak-emak.... Atau kalau misal ada yang mau nanya-nanya langsung ke Mak Diba juga bisa banget, orangnya welcome dan responnya cepet.

Sempat kemarin saya nanyain ke Mak Diba, merdeka financial itu apa sih?
 Merdeka financial itu saat kebutuhan terpenuhi dari pemasukan yang ada (Ardiba)
Jawabannya simpel, ya.

Bener sih, bahwa jika segala kebutuhan sudah terpenuhi pasti hati kita akan tenang.  Tidak ada kecemasan dan kegalauan, besok kita mau makan apa.

Investasi merupakan salah satu upaya untuk "menempatkan" sebagian harta yang kita miliki, agar dalam waktu tertentu kita bisa menikmatinya. Kalau menurut cara pandang awam saya sih seperti itu, daripada habis untuk kebutuhan konsumtif mending ditempatkan dengan benar agar suatu waktu nanti kalau kita butuh bisa membantu kita.


Dulu saya pernah rajin beli Dinar, dan alhamdulillah kepake buat nambahin DP rumah. Dinarnya sekarang sisa berapa keping saja, yah sebut saja itu bagian dari investasi yaa... (Saya, emak yang sedang belajar investasi)

Sedangkan macam investasi juga banyak ya. Saya berharap blog mak Diba juga akan mengulas tentang informasi investasi non perbankan. Ayo mak diba, draft nya segera diselesaikan dan buruan dipublish :).

Sebenarnya juga merdeka financial itu tak melulu soal duit banyak, tabungan, investasi dll... Saya lebih memaknainya bahwa kita bisa menjalani hidup ini dengan senang, dengan leluasa, dengan tenang dan penuh rasa syukur. Artinya kalau mau tercukupi yaudah sih gak usah kecentilan pengen beli ini itu, pengen punya ini itu.

Ta... Tapikan saya juga butuh plesiran, butuh rumah yang nyaman, jadi mau gak mau memang harus ngatur pendapatan biar bisa memenuhi semua kebutuhan tadi itu.

Pinjem judul blognya Mak Diba, emak bijak sadar investasi. Jadi investasi tetep cara tepat untuk mendukung program Keluarga Berencana, eh program merdeka financial.



pict from google.com

Mengajari Anak Mandiri Dari Kecil? Kenapa Enggak...

Minggu lalu kami mudik ke Makassar (dan Sinjai). Dalam rangka sudah setahun gak mengunjungi kakek nenek disana. Dan sekalian gantian mengunjungi bapaknya anak-anak yang gak bisa pulang ke Jogja.

Seperti biasa kerempongan selalu menyelimuti perjalanan 3 manusia ini. Mereka adalah seorang ibu berbadan kecil, satu kakak yang semakin mandiri, dan satu adek yang hobinya lari-lari, tengkurep dan berakhir guling-guling di waiting room bandara. 

Rempong tapi ya tetep seneng! Pan mau ketemuan sama bapaknya. 

Nah, selama di Makassar dan Sinjai kegiatan kami padat merayap mirip jalanan tol Maros-Makassar (ajiiippp ini tol kok malah bukan bebas hambatan tapi penuh hambatan). 

Kegiatannya sebenernya gak banyak, cuma kunjung mengunjungi sanak sodara.. Ditambah makan tidur makan tidur. Tapi entahlah kalau travelling sama anak-anak memang butuh energi alkalin biar selalu on karena pasti bakal capek banget! Eeh, ini baru ke Makassar looo ya....gimana besok kalau jadi ke Turkey! Hellouw :|

Liburan selesai. Apakah capeknya sudah selesai juga? Ooh tentu saja belum.

Jogjaaa, aku kembali dengan membawa virus flu! Kebiasaan kalo habis pergi-pergi langsung ingusan. Nyesel karena gak bawa peralatan per-young-living-oil-an. Besok-besok musti dibawa sekalian HARUS RUTIN diolesin biar daya tahan tubuh enggak ngedrop.

Ketika saya (dan anak-anak) sampai di rumah Jogja dalam kondisi sakit, mbak T belum balik dari mudiknya. Kebayang betapa berat beban hidup ini kan? Makin sakit saya mah kalau gak tidur dua hari dua malam.

Yang sedih ya karena liat anak-anak habis liburan bukannya seneng malah pada lemes.

Trus, jadi nyesel travelling sama anak? Enggaaakkkk....

Biarpun orang bilang sungguh ribet hidup saya karena kemana-mana harus nggendolin anak kesana kemari tapi buat saya gak masyalah kok, itumah cuma bumbu-bumbu kehidupan sebagai ibu beranak banyak (((((INI BARU DUA ANAK YAAA)))). 

Ini kata pembukanya panjang bener ya?



Jadi, selama gak ada mbak T si kakak jadi anak yang mandiri banget. Misal, ambilin waslap dan air buat kompresin adek. Ambil piring dan makan sendiri karena bunda disandera adek nenen tanpa henti jadi pasti gak bisa nyuapin kakak. Mandi sendiri, ambil baju sendiri sekaligus pup sendiri dan bersihin sendiri. Juga tiba-tiba bantu bersihin muntahan adek di lantai. Saya, sambil nyusuin adek sambil nangis diem-diem, saking terharunya sama sikap kakak yang berubah drastis jadi anak manis dan semandiri itu. Oleh anak TK, yang berumur lima tahunan.

Jadi, semalem suami ngajakin ngobrol tentang tema anak mandiri. Suami sharing sebuah artikel yang baru saja dibaca. Tentang kisah nyata seorang anak dari keluarga berpendidikan dan kehidupannya serba mapan. Yang dari lahir hingga dewasa selalu disiapkan segala hal yang terbaik oleh orangtuanya. Hingga akhirnya ketika anak itu telah dewasa, kehidupannya kacau balau, dari urusan gak kelar kuliahnya, perceraian, miras, narkoba dll. Ya, karena si anak selama hidupnya tidak pernah berpikir untuk berjuang. Buat apa berjuang? Toh selalu ada orangtuanya yang siap pasang badan.

Lalu suami jadi merasa.. Eh kita merasa sebagai orangtua dari anak-anak ini apakah selama ini sudah terlalu manjain mereka? Contohnya, ketika si kakak ngeluh gak mau makan makanan seadanya di rumah, yang kita lakuin apa sih? Biasanya pasti langsung kasih tawaran, kak mau makan apa? Mau ayam krispi? Pizza? Oke ayah belikan yaa asal kakak mau makan.

Nah, yang begitu itu.... Jadi semacam kita full service banget ke anak. Sebenarnya bukan soal beliin mainan mahal atau sepatu berbi yang bisa nyala, alhamdulillah kakak gak suka tantrum kalau minta sesuatu gak diturutin. Tapi dari soal kecil pilih-pilih makanan gini nih yang kayaknya sudah mulai dibiasain makan seadanya di rumah. Nerima apa adanya, gak musti diada-adain yang gak ada.

Kenapa sih suami kekeuh banget nerapin sikap gak manja-manjain anak berlebihan? Ya biar mereka bisa mandiri. Kita ngebayangin kalo sampe besar mereka terbiasa ngandelin orangtuanya, atau bergantung dengan orang disekitarnya.. Karena dari dalam kandungan sampe dia dewasa semuanya sudah disiapin yang terbaik. Sedih rasanya kalau mereka sudah besar trus gak bisa survive, gak bisa strong menjalani hidupnya sendiri.

Meskipun juga sebenarnya, kita sebagai orangtua pasti seneng dan bangga banget kalau jadi andalan anak-anak. Tapi ternyata kami lebih bangga ketika bisa mendidik mereka menjadi anak yang mandiri. 


Nah, ini kejadian tadi malam, pas adek sudah tidur sementara saya dan kakak masih melek, masih goler-goleran di kasur. Si kakak tiduran di perut saya yang kempes ini, lalu saya buka obrolannya dengan....

Kak, terimakasih ya kemarin sudah mau makan sendiri tanpa disuapin bunda pas adek rewel minta nenen terus. Kakak juga sudah bantuin bawa tas waktu di bandara, kakak sudah besar ya, sudah jadi anak mandiri. Alhamdulillah. Bunda seneng kak.
Ucapan terimakasih seperti itu saya harap bisa menumbuhkan rasa percaya diri kakak untuk tetap menjadi anak mandiri karena yang dia lakukan ternyata dihargai oleh orang lain.
Sekarang kakak cerita dong, ayah dan bunda menurut kakak itu orangnya bagaimana? Contohnya, baik, suka menolong dll
Emang kenapa sih? | Gak apa-apa nak, buat introspeksi aja. | INTROSPEKSI ITU APA BUNDA????
Zzzzzz....
Bunda itu apa-apa sukanya difoto, bikin roti difoto, baju difoto, daun difoto, tapi bunda itu baik, tas nya banyak, jilbabnya juga banyak. Suka beliin aku baju sama sepatu. Sekarang ada jerawatnya. Bisa menjahit,  bisa bikin roti. Suka nolongin kakak sama adek kalo lagi sakit. Suka minta pasang wallpaper (detil amat nakkk), suka beli kain, suka tanaman sama suka nenenin adek. Dulu bunda suka beli make up, tapi sekarang sudah enggak *sambil melirik meja makeup yang penuh tapi gak pernah dipake*.
Kalau ayah gimana kak? *kepo*
Ayah suka ngajak jalan-jalan. Baju ayah cuma sedikit, tapi punya bolpoint banyak. Ayah gak suka kalo kakak marah, sukanya kakak senyum dan rajin gosok gigi. Ayah suka banget tidur dan susah mandi. Kalau disuruh mandi gini bunda.... "iyaaa...iyaaaa.." tapi tidur lagi.

Ya ampuuun... Kata-kata anak kecil itu pasti dari hati paling dalam ya.. Jadi merasa habis bercermin, yes anak adalah cermin untuk orangtuanya.

Dan obrolan semacam itu juga menurut saya kadang perlu, mengingat kita sebagai orangtua tak mungkin bisa jadi orangtua yang sempurna. Harus siap terima masukan dan sentilan biar makin bisa menjadi orangtua yang baik dan bijaksana. Biar anak juga menghargai kita, anak dekat dengan kita, anak merasa nyaman menjalani hidup dengan didikan orangtuanya.

Ini ngomongnya makin ngalor ngidul yak..

Intinya sih... :
  • Jangan terhanyut dengan slogan "biar kami saja orangtuanya yang menderita, jangan sampai anak saya menderita juga". Mulai sekarang dirubah, terapkan "penderitaan" KEMANDIRIAN pada anak dari hal-hal kecil yang disesuaikan dengan usianya. Karena efeknya itu jangka panjangggg... Kalau mereka sudah pada besar nanti pasti terasa banget manfaatnya kalau dari kecil sudah menemukan rintangan, ujian dan pengalaman hidup yang gak melulu manis
  • Needs and Wants! Bedakan ya, kalau mau kasih/ beliin sesuatu buat anak atas dasar kebutuhan si anak bukan atas dasar keinginan, apalagi keinginan orangtuanya !
  • Anak saya pemalu, sukanya gelendotan kalau di depan orang banyak. Ya beda dong, pemalu sama mandiri, itu gak apa-apa nak... Karena sifat pemalu juga penting. Nanti lama-lama insyaAllah juga akan belajar biar lebih berani ngadepin orang banyak. Yang penting sekarang mulai belajar makan seadanya di rumah ya kak
  • Moment sepuluh menit sebelum tidur, dan sepuluh menit ketika nganter ke sekolah adalah moment yang sangat saya nikmati. Karena disitu kami bisa bercerita apa saja...termasuk kita sebagai orangtua juga butuh masukkan dari mereka, agar bisa menjadi orangtua yang menyenangkan buat mereka. Dan mereka tidak menganggap yang kita lakuin ke mereka karena kita tega, tapi ini sebenarnya baik untuk mereka
  • Terakhir, jangan lupa jaga kesehatan yaa.... Aduh virus sekarang makin ambisius! Syeremmmm... Semoga sehat selalu
Eh, belum kelar ding nulisnya. Ada pertanyaan yang perlu saya renungi...


Mempersiapkan sekolah yang terbaik untuk anak, dari jenjang playgroup favorit sampai kuliah di Amerika mungkin? Mempersiapkan segala fasilitas yang menyenangkan seperti antar jemput sekolah menggunakan mobil biar gak kepanasan atau kehujanan? Membelikan aneka mainan mahal yang membuat dia merasa sangat bahagia? Menyediakan aneka makanan kesukaannya asalkan si anak mau makan?

JLEEEBABLE!


Mungkin ini menjadi point penting untuk saya dan suami dalam mendidik anak-anak titipan Allah ini. Bukan dengan kemudahan dan menghilangkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, melainkan mendidik mereka dengan benar, dengan berbagai masalah, tantangan, rintangan dan kesulitan.

Lalu, sekarang saya jadi mikir untuk cari pesantren buat si kakak. Hmmm....

LDRan Itu Menyenangkan




Mungkin saya dianggap gak normal ketika saya bilang LDRan itu menyenangkan! HAHAHA

Yamana ada sih istri yang seneng jauhan sama suamik, pengennya kan tetep barengan, gelendotan, gandengan terus kemana-mana, yekan?

Tapi baca aja dulu deh tulisan ini sampai selesai, ini menurut cara pandang saya sih yang sekarang baru jalan tahun ke TUJUH LDRan.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------