Image Slider

4 Langkah Make Up buat si pemalas :)

Menyadari bahwa kulit wajah merupakan aset penting yang wajib dipelihara sebaik-baiknya mengingat umur tidak lagi belasan kinyis2 nan menawan, tapi sudah 27an dan flek hitam mulai nampak bermunculan. *rasanya pengen langsung nyelupin muka ke ramuan anti aging*

Selain berusaha minum air putih minimal 8 gelas sehari, konsumsi vitamin e, buah dan sayur gak boleh lewat dalam sehari, saya juga berusaha menjaganya dari luar. Apalagi saya anak motor, panas matahari, debu, asap jadi makanan sehari2. Dengan rute rumah - sekolahan - kantor - sekolahan - rumah - kantor - rumah nyaris setiap hari. Sudahlah namanya panas terik diterima dengan hati terbuka dan muka terbakar.

1. Sunblock. Barang satu ini sekarang wajib banget dipake! Dulu mana pernah pake SB. Paling kalo mau brenang aja, itupun sangat jarang. Sekarang tiap hari harus pake. Karena saya gak doyan2 amat sama makeup, jd sebisa mungkin menggunakan rangkaian skincare yang sekaligus bikin muka kuinclong cynt *ngarep*. Balik lagi ke SB, saya pake merk ***** (gak mau sebut merk takut di endorse sist.. Hehe) SB ini saya pake setiap mau keluar rumah, dan setelah sholat-pun saya usahakan pakai lagi. Biasanya setelah pakai SB saya jarang banget pake bedak, karena menurut saya tingkat ketebalan muka sudah cukup dengan si SB ini, khawatir dijulukin si tebal mukak :D.

2. Pelembab. Sebelum pake sunblock, usahakan pake pelembab. Ini juga penting apalagi untuk jenis muka cenderung kering kayak saya, kalo habis cuci muka rasanya ketarik2 mukanya. Sangat gak nyaman tanpa olesan pelembab.

Hebat vs Kasihan

Percakapan ini dimulai ketika dalam perjalanan jemput kakak H pulang sekolah tadi siang.

Kak H : "Bunda, bapak itu kasihan sekali yah" nunjuk bapak tua yang lagi narik gerobak
Bunda : "Kenapa kasihan nak?"
Kak H : "Karena.... kan berat sekali itu bunda gerobaknya....."
Bunda : "Bukan kasihan nak, tapi bapak itu hebat" Kasihan itu kalau Mbak H sudah dibonceng naik motor tapi masih ngeluh capek.. Itu artinya Mbak H kurang pandai bersyukur.. Nah itu baru kasihan. Kalo Bapak tadi hebat nak... Bapaknya tetep narik gerobak meskipun jalan kaki sambil kepanasan... Hebat ya nak ya!

Saya dan suami berusaha menularkan mindset kepada anak-anak tentang penggunaan yang tepat kata "kasihan". Seringkali kita menganggap dan langsung berucap "kasihan sekali dia...." Kepada seseorang yang sepertinya status sosialnya atau nasibnya tidak seberuntung kita. Meskipun niat kita ingin berempati, tapi menurut kami ada kata yang lebih pantas untuk mereka orang-orang yang sesungguhnya luar biasa. Itulah mengapa kami lebih suka memilih kata hebat daripada kasihan. Kasihan pantas untuk orang-orang kaya yang korupsi, untuk orang-orang hebat yang merendahkan orang lemah, orang-orang pandai yang ilmunya hanya untuk dirinya sendiri, orang-orang kuat namun suka menindas, dan orang-orang yang jauh dari aqidah dan tidak pandai mensyukuri nikmat dari Allah SWT.

Hebat adalah kalian yang berhasil survive menjalani hidup dengan ketulusan, kerja keras, namun tetap istiqomah di jalanNya dan selalu mensyukuri setiap lapis keberkahanNya.

Hidup kita semata-mata untuk mengejar kemuliaan dariNya, karena itu adalah kunci kebahagiaan di dunia dan di akhirat.






Pict Source : 
http://firmankurniawan.com/kaya-karena-pandai-bersyukur

Belajar jadi Ibu Profesional



Dimulai pada suatu siang di hari Minggu yang panas, creambath kayaknya enak nih. Akhirnya saya ngajak si sulung ke salon dekat rumah, sekalian kakak H mau potong rambut karena ujung-ujung rambutnya pada bercabang dan kemerahan. Sambil nemenin potong rambut (atau saya yang ditemenin creambath ya?) Saya memilah tumpukan tabloid di meja tepat di depan saya. Yaaah kok tabloidnya edisi jadul semua.. Akhirnya saya menemukan sebuah tabloid tipis, dengan Judul SWADAYA. Media Komunikasi DPU DAARUT TAUHID entah edisi kapan ya ini. Covernya foto seorang Perempuan yang nampak keibuan sekali, dengan tagline Sekelumit Kisah Septi Peni Wulandari, Sang Ibu Profesional.


Detox Gadget, untuk anak dan KITA

Karena gadget saat ini sudah mirip racun dan bikin candu, untuk anak dan KITA.



Gambar diambil di sini


Soal #detoxgadget jika hanya berlaku untuk anak saja kira-kira fair gak? Ya enggak lah... enak banget ya si mamah asik mainan path sementara si anak mau nonton youtube gak boleh *plak plok plaak*. Sejak kapan butuh detox? Setelah merasa diracuni sama gadget, tapi memang susah sih karena sudah seperti bagian dari kebutuhan. Rite?? Tapi...... setelah keseringan ngelap air mata pas nonton seminarnya Ibu Elly Risman.... setelah sering ketampar sama para narasumber POMG di sekolahan anak... setelah kebanyakan baca literatur ilmu parenting maupun kesehatan, memang harus diawali niat dan paksaan yang kuat untuk serius menghadapi persoalan ini. Tolong, selamatkan anak-anak kita dari bahaya gadget mulai dari sekarang.

Eh ini bukan mau ngomongin teori parenting level expert yaah, ini ibu satu ini cuma mau share sedikit tentang usahanya terapi #detoxgadget ke anaknya dan dirinya sendiri. Inipun baru dimulai.. semoga konsisten, disiplin dan istiqomah. Aamiin.


Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------