Hanin #3

"Hanin...

Aku tau, dari sejak dalam kandungan ayah dan ibu ku sudah berpisah. Berpisah bukan bercerai, tapi tidak bisa bersama-sama setiap saat. Ayahku saat itu dinas di manokwari, aku dan ibu di jogja.

Sejak dalam kandungan, aku ikut merasakan perjuangan kalian. Aku sering mendengar ibu terisak, ibu sedih karena rindu sama ayah. Ibu sedih, karena aku nakal membuat ibu mual-mual dan muntah. Ibu sedih karena pintu rumah rusak, lampu kamar mati, dan berharap ada ayah disitu untuk memperbaikinya. Dan Ibu sedih karena ayah tak bisa menemani tidur kami setiap malam.

Sejak dalam kandungan, aku sering mendengar percakapan hangat kalian. Ketika ayah baru datang, ibu menyambutnya dengan penuh cinta. Pelukan dan ciuman mesra tak jarang aku lihat ketika kalian sedang asyik berdua. Hehe.. Aku bahagia melihat kalian bersama-sama seperti ini.

Sejak dalam kandungan, aku berusaha mengerti keadaan kalian. Aku tak sering meminta apa-apa yang berlebihan, karena aku tau, ibu hanya seorang diri, tanpa ada ayah yang bisa membantu menyiapkan segala kebutuhan ibu untukku.

Sejak dalam kandungan, aku selalu menemani ibu bekerja dan kemanapun ibu pergi. Aku adalah teman sejati ibu. Ayah, tenang saja.. Ada aku untuk ibu. Ibu tak akan kesepian jika ayah mulai kembali ke perantauan. Ibu hanya terisak sejenak ketika subuh tiba taksi itu datang menjemput untuk mengantar ayah ke bandara. Tapi, ketika telepon berdering, ada kabar dari ayah bahwa ayah sudah tiba dengan selamat, ibu kembali tersenyum lalu memelukku lagi. Ibu sangat menyayangiku.. Seperti dia menyayangimu ayah.

Sejak dalam kandungan, aku sudah merasakan kebahagiaan.. Kasih sayang yang kalian curahkan untukku membuat aku tumbuh sehat di rahim ibu. Membuat aku kuat dan siap untuk lahir di dunia dan bertemu dengan kalian. Dan apakah kalian tau, mengapa aku lahir terlambat dari hari perkiraan? Karena, aku masih ingin menyaksikan kebersamaan kalian berdua.^^. Aku salut dengan perjuangan kalian, aku salut dengan cinta dan kesabaran kalian... Ayah ibu ku... aku mencintai kalian.

5 hari setelah aku lahir...
Tak banyak aku mendengar suara ayah lagi. Karena di umur ku ke-5 hari, ayah sudah meninggalkan kami kembali ke perantauan untuk pekerjaan2 yang telah menunggunya. Aku bersama ibu di rumah. Berdua menghabiskan waktu untuk saling menatap, menyentuh, mengenal, bercanda, dan melepas rindu kami berdua untuk mu, ayah. Walau aku belum puas menatap dan mengenal wajah ayah, tapi aku ikhlas karena ayah pergi untuk kebaikan, dan ayah pasti akan kembali untuk memeluk kami...."


"Aku...

Berat memang menjalani bagian hidup ini. Tapi bahagia akan datang jika Tuhan telah menunjuk waktunya. Aku merasa, belum bisa menjadi wanita yang mampu berperan ganda. Wanita super sebagai istri dan ibu yang hebat. Saat ini, aku baru bisa berperan tunggal menjadi ibu yang optimis bahwa tidak selamanya keluarga kecil kami timpang tanpa hadirnya seorang ayah dan suami tercinta di setiap hari-hari yang kami lalui. Aaaah... rupanya aku belum bisa menjadi istri yang bisa menemani dan melayani suamiku setiap saat. Sungguh, maafkan aku suamiku...

Dan ayah hanin mungkin juga demikian. Dia merasa bahwa belum bisa berbagi waktu dengan se-adil-adil-nya antara pekerjaan dengan keluarga. Bahwa, dia tidak bisa selalu ada untuk istri dan anaknya. Belum bisa hadir diantara aktifitas sehari-hari kami. Tapi yang aku tau, dia selalu berusaha untuk bisa bersama-sama kami.

Aku, seringkali mengutarakan keinginanku pada suami untuk keluar dari pekerjaanku ini. Betapa aku ingin menghabiskan peran 'istri dan ibu' ku ini hanya untuk kalian, keluargaku. Suami, tidak pernah memaksakan apapun terhadapku. Walau sebenarnya yang dia inginkan adalah aku bersamanya setiap saat. Tapi, dari setiap kejadian dia selalu belajar, dari setiap bagian hidup mengajarkan padanya, dan dari situ dia mengajarkan padaku, bahwa... Nikmatilah irisan-irisan hidup ini, tak selamanya kita akan hidup bersama di dunia ini. Maut akan memisahkan kita bagaimanapun kuatnya cinta kita. Aku, tak ingin istriku hidup terkatung-katung jika aku ternyata pergi dulu.. Aku ingin kalian bisa survive tanpa harus bergantung dengan orang lain. Aku ingin kalian kuat dan mandiri walau tanpa ada ayah. Karena jika kalian bahagia, ayah pasti akan lebih bahagia. Dan ternyata hidup tidak hanya ada aku dan kamu, tapi ada anak-anak, kedua orangtua kita, saudara-saudara, tetangga, yang mungkin akan membutuhkan kita."

Saat ini, belajarlah pada hidup bagian saat ini. Tak ada yang sia-sia jika kita meniatkannya untuk ibadah. Nanti, ada saatnya Tuhan memberikan tempat, ruang, waktu, dan kesempatan untuk kita... Untuk keluarga kita... Bersama-sama... Menjalani peran hidup yang sempurna antara ayah, ibu dan anak-anak.

Untuk Hanin, maafkan ayah dan ibu.. Ternyata kamu lebih kuat dari kami. Kamu banyak mengajarkan arti kasih sayang, kesabaran, keikhlasan, dan rasa bersyukur pada kami. Ayah dan ibu akan berjuang terus untuk Hanin. Tumbuhlah jadi putri yang sehat, mandiri dan berkah Allah selalu menghampiri hidupmu nak... Amin YRA.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------