Hanin #1

Kurang lebih 10 hari menjelang due date aku sudah mulai ambil cuti. Pertimbangan yang pertama karena kebetulan suami ada kesempatan pulang lebih cepat, jadi ingin sama-sama cuti dan mempersiapkan kelahiran putri pertama kami. Pertimbangan kedua… sudah gak semangat ngantor. Hehe

Hari-hari itu kami lalui bersama. Seperti pasangan yang baru saja menikah. Ya, aku merasa inilah yang namanya honeymoon sekaligus babymoon. Semua kita lakukan berdua, dari nyiapin barang2 untuk si baby, si suami juga jadi mentor yoga antenatalku, dan dia adalah teman sejati jalan pagi dan sore dari seputaran rumah, pasar, stadion, mall sampai jalanan sepanjang malioboro – dengan bergandengan tangan tentunya :) .

Hari terus berlalu, perutku semakin membuncit dan perasaan kami semakin membuncah. Kapan kontraksi itu datang? Seolah-olah sudah gak sabar lagi menyambut kehadiran si baby. Seminggu sebelum due date, 6 hari, 5 hari, 4 hari, 3 hari, 2 hari, dan sehari sebelum due date… rupanya belum ada tanda2 yang berarti.

Aktifitas semakin diperbanyak, yoga, relaksasi, hypnobirthing, jalan kaki, senam hamil dari yang nungging-nungging sampai jurus spiderman… (semua aku lakukan sendiri di rumah) dan berdoa setiap saat. Tak lupa juga, minta doa sama orang tua, mertua, dan smua keluarga supaya diberikan yg terbaik oleh Allah SWT.

Due date DATANG JUGA. Belum ada tanda apa2. Aku pasrah. Suami gelisah. Tapi kami tak menyerah. H+3 Jadwal ku kontrol ke dokter, semua dicek dalam kondisi baik dan tetap memungkinkan untuk bisa lahiran normal. Dokter berusaha membuatku terus percaya diri, karena dari awal kehamilan, aku sudah sampaikan keinginanku untuk bisa lahiran normal. Dokter Enny (Dokter Obsygn ku) bilang, “ Dua hari lagi, mudah2an lahir..”

Malam harinya, sudah agak terasa berbeda di perutku ini.. tapi aku diam saja, enggak mau cerita apa2 sama suami, takut aku-nya yang ke geer-an. Akhirnya aku bawa tidur, dan tengah malam perut semakin mules, tapi intervalnya masih belum beraturan. So calm (teteup). Sampai subuh tiba, suami bangun. Dan kembalinya dari kamar mandi, dia melihat ada bercak darah di bajuku. “Sayang… ini apa?” – “Ah, ini kelunturan aja kok (teteup kalem)” – “ooh (penasaran)” – “Tapi kok basah” – “ aku bangun terhenyak dan langsung ke kamar mandi, Ya Tuhan. IYA. Inikah tanda-tanda??”.. “Deng..deng..!!!”

-22 Februari 2011-
Tetep tenang, tetep jalan pagi sambil ngitungin jarak kontraksi (sudah 7 menit sekali). Telpon keluarga, cek barang2 yang mau dibawa (3minggu sebelum due date sudah disiapin looh). Mandi, sarapan seperti biasa. Dan sampai jam 12 siang aku baru berangkat ke RS. Aku gak mau terburu-buru ke RS, karena harapanku sampe sana sudah bukaan banyak, jadi gak pake lama langsung brojol aja.


Setelah masuk UGD, dicek ternyata baru bukaan 1 *Oh my GOD*. Jam 7 malam, dicek lagi baru bukaan 2. Akhirnya kami putuskan untuk pulang ke rumah, sampai rumah, makan malam trus aku istirahat. Dan mulailah kontraksi per- empat – menit sekali itu datang. Jam 11 malam, kita balik ke RS lagi, masuk kamar perawatan dan disitulah kontraksi hebat itu berlangsung. Dan pada saat itu aku gak bisa lepas dari tangan ibu ku, huuu membayangkan betapa besarnya perjuangan mama dulu waktu ngelahirin aku ya… Jadi ngerasa berdosa sebanget-banget nya, kalau aku masih mampu bersujud mungkin sudah kulakukan permohonan maafku kepadanya *lebay ya? :D*. Tapi apa daya, kontraksi itu membuatku muntah-muntah, makan malam yg beberapa jam baru disantap meluncur dengan lancarnya.

-23 Februari 2011-
Jam 02.30, aku dipindah ke ruang bersalin. Karena benar-benar rasanya ada sesuatu yang sudah berada di ujung tanduk *pengen pup*. Inilah pembuktian dari apa yang sudah aku pelajari selama ini (relaksasi, hypnobirthing, nafas panjang, inhale, exhale... mengejan dll). Huaaaaa…. Sebelah kanan suamiku, sebelah kiri ibuku. Dan aku gak mau lepas dari tangan-tangan orang terbaikku ini. Dan anehnya, kontraksi ku melemah justru ketika aku sudah di ruang bersalin. Sebentar kontraksi, sebentar aku tertidur (ngantuk banget bok). Begituuuuuuu seterusnya sampai pada akhirnya aku merasa tenagaku mulai habis untuk menghembuskan bayi dalam perutku ini untuk segera keluar.

Pada saat-saat menegangkan itu, apa yg sudah aku pelajari lupa sudah. Beruntungnya punya suami yang begitu peduli karena dia selalu ikut mempelajari apa yang aku pelajari selama kehamilanku sampai dengan menjelang persalinanku ini. Dia terus menciumi keningku, memegang erat tanganku, memberikan afirmasi positif untukku dan membantuku untuk mengatur napas dan mengejan dengan benar. Dia benar2 memberikan kekuatan sepenuhnya untukku. Yang aku ingat, sesekali kontraksi itu berhenti, aku minum dan tertidur. Ketika kontraksi datang lagi, aku kembali mengejan. Jadi ketika kontraksi itu datang, tim medis beserta pendamping persalinanku (ibu dan suami) seperti pemandu sorak "cheerleaders", yang bersiap-siap menyambut bayi ku dengan penuh semangat. Aaaha, aku jadi ikut bersemangat lagi :). Dan dua kali mengejan berikutnya, suara tangisan bayiku pecah sudah ( 04:00 WIB). Alhamdulillahhirabbli’alamin. Seperti merasakan surganya dunia. Legaaa… bahagia luar biasa. Melihat tubuhnya yang sempurna, mendengar tangisnya yang merdu menggantikan semua rasa lelah nan menegangkan itu.



Proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini) pun berlanjut, Subhanallah. Sungguh besar Kuasa Allah. Speechless! Akhirnya selama 40w 5d dia dalam kandunganku, sekarang dia sudah ada di pelukanku! Setiap geraknya tak lepas dari kuasa Allah dan para malaikat.. sehingga apapun yang ia rasa, yang ia dengar, dan setiap gerak apapun yang terjadi adalah suatu hal yang mendatangkan kesejukkan. Qurratul'ain..

Dua jam dari proses kelahiran, aku masih berada di ruang bersalin. Dikhawatirkan terjadi perdarahan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, dan aku diperbolehkan ke kamar perawatan untuk istirahat. Sementara bayiku masih tinggal di kamar bayi (setelah melalui proses dibersihkan tapi belum dimandikan, karena bayi minimal 6 jam dari waktu lahir baru boleh dimandikan, kemudian proses penimbangan dan pengukuran). Setelah sarapan dan mandi, aku lepas baju rumah sakit itu, dan aku ganti pakaian biasa, lalu aku jemput bayiku untuk bergabung di kamar ku : Alamanda 3103 Jogja International Hospital.

                                                                   ini Fotonya ni......:)

Proses melahirkan normal, IMD dan Room In telah berhasil dilakukan. Dan kami sangat berbahagia & bersyukur kepada Allah SWT atas segala kemudahan, kelancaran dan karunia Nya yang tak terhingga ini.
Sekarang, hari ini, Hanin (Nama anakku "Fathimah Hanin QA") tepat berumur satu bulan. Alhamdulillah, semoga ia tumbuh menjadi anak yang sholehah. Amin YRA.


Nanti aku pengen share tentang proses menyusui bayiku yaaa.. yang jelas, pengalaman itu juga pengalaman yang penuh perjuangan dan menegangkan.. Hehee
5 comments on "Hanin #1"
  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Biaya melahirkan di JIH brp mb? Sy pengen melahirkan disana jg, tp blom pernah lihat harga hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun 2011 normal di kelas utama sekitar 6-7jutaan mba. Tp utk skrg belum survey lagi, coba buka websitenya aja :)

      Delete

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
------- I R V I -------